<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655</id><updated>2011-07-28T12:43:57.683-07:00</updated><category term='3d model'/><category term='catatan harian'/><category term='rupiah'/><category term='pluralisme agama'/><category term='global warming'/><category term='fatwa'/><category term='google sketchup'/><category term='hoax'/><category term='(semacam) puisi'/><category term='inspirasi'/><category term='redenominasi'/><category term='review'/><category term='mui'/><title type='text'>Footprints in the Web</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-1939621637381049358</id><published>2011-04-19T19:56:00.000-07:00</published><updated>2011-04-19T19:56:04.625-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pluralisme agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><title type='text'>Review Buku: "Islam Liberal 101"</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Belum pernah terlintas dalam memori kolektif umat Islam nusantara tentang sebuah masa dimana mereka menyaksikan munculnya aneka penafsiran wahyu Ilahi yang sama sekali baru. Tidak hanya baru, tetapi tidak lazim dan aneh. Bukan hanya aneh, namun menyesatkan dan menghancurkan postulat-postulat logika, nihil adab keilmuan dan miskin moralitas manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sebuah tren populer yang mendapat dukungan politis dan finansial yang luar biasa dari sindikasi manusia global, bahkan institusi negara bangsa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tak pelak, fenomena ini menerbitkan keprihatinan bagi beberapa pihak. Bukan karena ianya adalah kontra yang musykil atau bahkan tidak terjawab. Namun karena gelombang itu begitu masif dan terorganisasi rapi sehingga rentan mendangkalkan akidah umat, bahkan meruntuhkan tiang-tiang syahadat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Berpijak pada lecutan kepahitan inilah, buku “Islam Liberal 101” direka rupa. Sebuah sumbangsih akal yang mencoba meniti petunjuk wahyu Tuhan untuk memberikan kupasan tipis kulit luar dari sebuah fenomena perang abadi antara al-haq dan al-bathil, kebenaran dan kesesatan, di sebuah palagan bertajuk pemikiran. Sebuah pengantar singkat sebagai pemicu bagi akal-akal lurus untuk mengenali keadaan, mengeraskan kepalan tangan dan menjejakkan kaki di medan juang. Dimana demikianlah fungsi aksara “101” menurut ujaran Akmal Sjafril, maestro di balik kitab yang bermanfaat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Untaian makna dibuka oleh kisah heroik dakwah Nabi Ibrahim `alaihissalam. Mengambil sumber dari mata air Qur`ani, dengan elok Bung Akmal membuka kuliahnya tentang pemikiran ini dengan sampel fakta sosok agung yang, tercatat dalam sejarah, melakukan pencarian Rabb-nya dengan kekuatan akal. Dimana logika yang benar mengantarkannya pada rahmat dan hidayah Ilahiyah, dan di ujung nanti, logika yang sama akan menghancurkan bangun kekeraskepalaan pengekor kesesatan serta kesombongan rapuh penguasa yang tertipu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ada yang aneh dengan kesombongan, apalagi jika ia direngkuh oleh makhluk pemilik predikat “dzaluman jahula”, zalim lagi bodoh. Selendang yang hanya pantas dipunyai oleh pemilik sifat Mahaperkasa dan Maha Berkehendak, sungguh tidak pantas jika coba dirampas makhluk-makhluk lemah, apalagi tanpa adab. Dipelopori oleh iblis laknatullah, selalu saja ada makhluk yang merasa berhak memakai mahkota kesombongan. Padahal tidak ada efek positif dari hal ini melainkan ketertutupan hati dari cahaya kebenaran dan keterpurukan diri dalam jurang kesesatan. Tidak cukup menyesatkan dirinya sendiri, pengklaim sifat kesombongan ini bahkan menipu dan menyesatkan orang-orang yang mengikutinya. Puncaknya, jika dominasi kesesatan ini akhirnya runtuh di depan bukti-bukti yang nyata dari langit, yang kemudian dibenarkan oleh akal-akal yang tercerahkan, maka segala daya upaya dilakukan untuk menghalangi manusia dari jalan Tuhan. Fir`aun adalah contoh sempurna kesombongan yang diabadikan oleh kalam-kalam wahyu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Namun, Fir`aun bukanlah realita purba yang membeku dan punah ditinggal roda zaman. Dia adalah mentor terbaik yang jejak langkahnya dinapaktilasi oleh para pengibar panji kesesatan. Bahkan pemilik nurani yang bersihpun tidak akan berhenti untuk takjub dan heran, betapa kesesatan selalu saja menemukan seribu satu macam jalan untuk mengeksiskan dirinya. Walaupun dengan cara yang tidak terhormat dan hina. Contoh-contohnya secara lugas dan gamblang akan dibahas nanti oleh Bung Akmal di pertiga akhir episode bukunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Menoleh ke belakang, memutar kembali bandul sejarah adalah salah satu upaya memahami realitas kekinian. Dengan memahami konteks ruang, waktu dan budaya; seseorang diharapkan bisa memperoleh gambaran lebih luas tentang sebuah fenomena. Seperti halnya manusia, produk pemikiran akalpun memiliki asal-usul dan latar belakangnya yang khas. Dalam hal ini, sekularisme, ulas Bung Akmal, memiliki akar sejarah yang berasal dari Eropa pada masa Abad Kegelapan (Dark Ages). Absolutnya kekuasaan Gereja yang diperparah dengan perilaku koruptif, kolutif dan manipulatif para wakil Tuhan melahirkan antitesis yang tidak kalah ekstrimnya, berupa penyingkiran nilai-nilai Ilahiyah dari setiap pori-pori kebermasyarakatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mimpi buruk bangsa Barat ini termanifestasi dalam stereotipe yang negatif tentang Tuhan, agama dan nilai-nilai kebenaran. Tidak sulit untuk menjejak hal ini dalam pemikiran-pemikiran yang ‘memasung’ Tuhan dalam bilik pribadi individual di pojok paling pinggir kehidupan. Atau penolakan atas berperannya nilai-nilai kebenaran agama dalam pengelolaan kehidupan komunal kenegaraan. Bahkan kata “agama” sendiripun memiliki kesan bodoh, kaku, kuno, terbelakang dan pelarian bagi manusia-manusia yang kalah dalam persaingan dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ketika Bung Akmal menguraikan tentang “deconsecration of values” sebagai salah satu pilar sekularisasi, logika saya sontak berteriak, “Ini hanya sepelemparan batu saja dari atheisme.” Jika tidak ada lagi dzat yang absolut, maka inilah wujud dari igauan Nietzsche: Tuhan telah mati! Bahkan menurut saya, inilah intisari dari sekularisasi. Absennya sesuatu yang absolut dalam agama, berbuah pluralisme; dalam nilai-nilai kemanusiaan, beranak liberalisme bercucu relativisme. Dan prediksi saya, ujung dari semuanya itu adalah anarkisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ada banyak hal yang bisa dipanen dari buku sederhana namun sarat pengetahuan ini. Bagi pembaca awam seperti saya, buku ini memberikan pengantar, arahan dan pemeraan atas kondisi kontemporer umat akhir zaman. Pembaca maqam lanjutpun, saya kira, menuai hikmah yang tidak sedikit. Ada logika-logika sederhana yang membanting telak klaim-klaim palsu sesat. Ada ilustrasi-ilustrasi ringan yang menggambar permasalahan dengan cermat. Ada juga informasi-informasi dari referensi langka yang raib dari jangkauan publik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;A very much recommended literature…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dengan begitu banyak manfaat, buku ini hampir tidak bercela. Akan tetapi hanya Allah jualah pemilik segala kesempurnaan. Bukan sebuah cacat yang meruntuhkan bangunan indah, namun ada perbedaan selera dalam memahami definisi keindahan itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Bagi saya, ada semacam kegagapan ketika di beranda buku, saya disambut oleh subbab awal yang berkisah mengenai peperangan abadi. Apa yang saya bayangkan ketika menatap judul buku dan membaca kata pengantar sutradaranya, sedikit meleset dari perkiraan. Dalam selera saya, pembahasan mengenai definisi hendaknya lebih dimajukan sehingga ketika Bung Akmal menguraikan tesisnya tentang peperangan abadi, pembacanya sudah mendapatkan cita rasa dan ketersambungan ide. Namun sekali lagi, sebenarnya ini bukanlah sebuah hal yang signifikan. Hanya perbedaan selera, itu saja. Dan di atas itu semua, komentator tentu selalu lebih hebat daripada pemain yang bersimpah peluh di lapangan. Apalah arti sebuah review sederhana ini dibanding buah tangan Bung Akmal Sjafril bagi pencerahan umat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Akhirnya, saya hanya bisa turut mengaminkan doa penulis di awal cerita agar buku ringkas ini, kelak, bisa menjadi pemberat timbangan amal kebaikan siapapun yang terlibat di dalamnya. Dan semoga saya yang menulis review ala kadarnya ini ikut terciprat pahalanya juga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Amiiin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Oiya, ada yang ketinggalan. Pada halaman 207, tertulis,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Beginilah orang-orang munafik. Mereka bahkan berani datang langsung ke hadapan Allah dan mengaku beriman kepada beliau. Akan tetapi, Allah memperingatkan Rasul-Nya akan kebohongan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mungkin saya saja yang salah. Namun, apakah kata “Allah” pada kalimat kedua di atas tidak sebaiknya diganti “Rasulullah”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Bung Akmal?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;PS: Akibat membeli buku ini di Malami Bookstore, saya tidak perlu repot mencegat KA262 (Pakuan Ekspres keberangkatan pukul 19:25) di Stasiun Sudirman untuk meminta tanda tangan Bung Akmal. Hehe :p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-1939621637381049358?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/1939621637381049358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=1939621637381049358' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/1939621637381049358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/1939621637381049358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2011/04/review-buku-islam-liberal-101.html' title='Review Buku: &quot;Islam Liberal 101&quot;'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-8449126544272310819</id><published>2011-03-07T12:44:00.000-08:00</published><updated>2011-03-07T12:46:39.647-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pluralisme agama'/><title type='text'>Catatan Harian 01 Maret 2011</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Maraknya pemberitaan mengenai tindak kekerasan massa terkait agama tentu saja membuat banyak pihak merasa prihatin. Ada banyak premis diformulasikan, ada banyak analisis dilakukan dan ada banyak tesis diwacanakan. Namun sayangnya, selalu saja eksklusivitas agama menjadi kambing hitam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Walaupun ditegakkan di atas logika rapuh, fenomena kontemporer berupa kriminalisasi esklusivitas agama --dan pada gilirannya menjajakan pluralisme sebagai antitesisnya-- lekat dengan semua label kepopuleran: modern, cerdas, ilmiah, progresif ……….. dan seksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Membaca rubrik “Opini” di harian Media Indonesia (MI) edisi hari Senin (28/02) membuat saya ingin memberikan sedikit catatan. Dalam tulisannya yang berjudul “Agenda Pendidikan Agama Kita”, [1] Ahmad Baedowi (AB) berusaha merangkai hubungan kausalitas antara fakta maraknya peristiwa kekerasan massa terkait agama dengan tingkat toleransi para guru agama dan siswa sekolah menengah pertama dan atas di Jabodetabek.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Logika yang ingin dibangun AB melalui tulisannya itu menuduh para guru agama yang “intoleran” ditambah dengan materi ajar pendidikan agama Islam yang masih lekat dengan eksklusivitas agama menjadikan para siswa teralienasi dari fakta pluralitas masyarakat. Dimana pada gilirannya memicu tindak kekerasan pada pemeluk agama lain yang ujung-ujungnya menumbuhsuburkan semua perilaku amoral di kalangan remaja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tulisan AB diawali dengan usaha membangun jembatan logika antara fakta maraknya tindak kekerasan dengan sikap beragama yang dianggap intoleran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“LAPORAN Media Indonesia (27/2/2011) tentang kekerasan dan sikap tidak toleran di lingkungan guru agama dan siswa pada sekolah menengah pertama dan atas di Jabodetabek cukup memprihatinkan kita. Jangan-jangan ini menandakan fenomena kegagalan pendidikan agama di ligkungan sekolah yang juga ditandai dengan maraknya kekerasan, munculnya praktik aborsi akibat pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga konsumsi tayangan pornografi melalui telepon seluler.”&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Penggunaan kata “jangan-jangan” di atas menunjukkan bahwa AB sendiri masih belum sepenuhnya yakin dengan postulat sebab-akibat yang sedang dia bangun. Namun anehnya, secara inkonsisten AB merasa yakin dengan kesahihan bangunan logikanya, bahkan cenderung memaksakannya kepada publik. Hal ini tersurat pada penggunaan kata “harus” pada paragraf kedua tepat di bawahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Kasus kekerasan di sekolah yang melibatkan guru, orang tua, dan siswa harus dibaca sebagai gejala otoritarianisme agama yang mulai menguat di sekolah.”&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Logika AB --yang dengan susah payah mengait-ngaitkan gejala maraknya tindak kekerasan dengan kondisi keberagamaan masyarakat-- sebenarnya sangat lemah, dan dipaksakan. Apalagi ketika intoleransi itu dianggap mewujud dari sikap eksklusivitas agama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam Islam, agama itu bukan sesuatu yang dipaksakan. Kabar wahyu memang harus disampaikan dalam wujud amanat dakwah, namun keyakinan seseorang bukanlah domain kerja makhluk. Ia adalah hak prerogatif al-Khalik, berupa hidayah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [2] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah [2] : 256)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. al-Qashash [28] : 56)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Menuduh eksklusivitas agama --dalam hal ini, Islam-- adalah kisah lama yang selalu diputar-putar secara memuakkan. Hal ini disebabkan oleh lemahnya argumentasi logis serta minim landasan historis. Fenomena maraknya tindak kekerasan massa adalah fenomena kontemporer yang terekam dalam beberapa tahun terakhir saja, apapun dalih dan latar belakang pencetusnya. Sedangkan fakta bahwa Muslim adalah mayoritas di Nusantara, sudah ada sejak Indonesia diproklamasikan. Bahkan jauh sebelum itu. Lengkap dengan pemahaman pemeluknya bahwa Islam adalah agama yang eksklusif, bahwa tidak ada jalan keselamatan lain di luarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Potret buruk tentang eksklusivitas agama sebenarnya berasal dari luar Islam. Itu adalah memori kolektif masyarakat Eropa dari masa Abad Pertengahan, dikenal juga sebagai Dark Age. Sebuah masa dimana golongan pendeta dalam naungan Gereja memegang kekuasaan absolut yang otoriter, lengkap dengan lembaga penghukum bernama Inkuisisi. Dan sekarang, memori buruk ini hendak dijejalkan kepada masyarakat Muslim yang relatif steril dari hal-hal semacam ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Lepas dari eksklusivitas Islam yang toleran, masyarakat non-Islam-pun juga tidak sepi dari fakta-fakta intoleransi. Pelarangan menara masjid di Swiss dan penolakan warga New York atas pembangunan masjid di Ground Zero; adalah beberapa contoh di antaranya. Dan nyatanya, hal itu juga tidak diikuti oleh kekerasan massa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dari titik ini, sudah jelas terlihat bahwa logika AB sudah tidak layak untuk diwacanakan. Karena memang bukan itu kunci permasalahan. Menurut saya, supremasi hukum adalah penyelesaiannya. Karena hukum besi keadilan bisa menyatukan gerombolan massa barbar menjadi masyarakat negara yang teratur dan beradab. Jika kebutuhan akan keadilan ini tidak terpuaskan, maka massa yang terzalimi tidak lagi melegitimasi institusi negara dan aturan main bermasyarakat. Kebutuhan inilah yang gagal dipenuhi oleh sebagian pihak di republik kepulauan ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sebenarnya, saya berada di satu pihak dengan AB ketika Beliau menyampaikan tesisnya tentang perubahan pada agenda pendidikan agama. Terlalu banyak beban harapan yang ditimpakan oleh masyarakat kepada pendidikan yang jatah jam pelajarannyapun masih minim. Belum lagi ditambah oleh orientasi pelajaran agama Islam yang masih terlalu kaku dan tidak tepat sasaran.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Namun, menjadikannya kambing hitam dengan sebuah postulat kausalitas yang invalid secara logika, juga bukan sesuatu hal yang bijaksana. Apalagi disisipi dengan pesan sponsor paham pluralisme agama. Padahal, tidak ada hasilnya mengimani pluralisme agama, melainkan dua pilihan bagi kita: menjadi personal berkepribadian ganda atau setengah hati mengimani wahyu Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Karena pluralisme agama dan Tuhan tidak pernah satu jalan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[1] Ahmad Baedowi, “Agenda Pendidikan Agama Kita”, Media Indonesia, 28 Februari 2011, hal. 11.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[2] Thaghut, ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-8449126544272310819?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/8449126544272310819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=8449126544272310819' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/8449126544272310819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/8449126544272310819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2011/03/catatan-harian-01-maret-2011.html' title='Catatan Harian 01 Maret 2011'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-6101547430012222102</id><published>2011-02-24T11:15:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T11:15:45.741-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='(semacam) puisi'/><title type='text'>Coretan Gak Mutu: Penari di Bibir Laki-Laki Setengah Baya</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ada sesosok penari terbang dari bibir laki-laki setengah baya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tubuhnya membumbung ke atas menjemput langit,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;berlenggok merentangkan tangan sayapnya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;menerbitkan kernyit dan kibasan lima ruas jari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Lelaki itu menatap sejumput nyala di ujung jarinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Matanya kosong dimakan lamunan berbumbu penat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ada seekor naga di lubang hidungnya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;menyemburkan panas dalam setiap jeda sengal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ada &amp;nbsp;sesosok penari terbang dari bibir coklat beraroma pekat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dia dekap setiap anak zaman yang disentuhnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Membetot harmoni dalam tarikan nafas naifnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"Mengapa Engkau nikmati barang haram itu, Ayah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;tanya anak kecil bermata binar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Lamat-lamat ia membaca guratan kisah masa depan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;dengan paru-paru yang dikoyak nikotin jahanam!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-6101547430012222102?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/6101547430012222102/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=6101547430012222102' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/6101547430012222102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/6101547430012222102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2011/02/coretan-gak-mutu-penari-di-bibir-laki.html' title='Coretan Gak Mutu: Penari di Bibir Laki-Laki Setengah Baya'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-2074215585192154033</id><published>2011-02-17T09:08:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T09:08:08.399-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Pak RT</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Minggu malam itu saya tiba di kompleks perumahan ketika jarum jam sedikit melewati pukul sembilan malam. Dengan badan hancur luluh setelah seharian bekerja lembur di kantor, saya menyusuri jalan aspal menuju rumah. Beberapa meter menjelang tujuan akhir, seorang tetangga menyapa saya. Dengan hangat, Beliau menjabat erat tangan saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Selamat ya, Ente jadi RT”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Waduh…!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sejak pengembang menyelesaikan semua proyek pembangunan di kompleks kami, pengelolaan perumahan secara otomatis diserahkan kepada warga. Akan tetapi ketika pengembang memutuskan untuk menyerahterimakan pengelolaan perumahan, belum ada satupun institusi representatif yang bisa dianggap mewakili warga. Untuk menghindari keresahan massal akibat ketiadaan sekuriti dan layanan pengangkutan sampah, maka beberapa orang warga berinisiatif membentuk sebuah kepengurusan ad-hoc bernama tim formatur. Dimana sejak awal pembentukannya, tim formatur ini diniatkan hanya untuk bekerja selama masa transisi. Dan akan bubar ketika sudah terbentuk struktur kelembagaan warga yang lebih resmi dan berkekuatan hukum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ada beberapa hal yang langsung dikerjakan oleh tim formatur semenjak detik pembentukannya, yaitu menyediakan tenaga sekuriti, kebersihan dan pengangkutan sampah. Masih segar dalam ingatan saya betapa waktu itu kami dibuat kelabakan oleh mepetnya jadwal serah terima perumahan dengan sisa waktu yang tersedia. Terlambat sedikit saja, maka warga Pitara akan menyaksikan orang-orang keren di Mutiara Darussalam berangkat kerja sambil menenteng bungkusan sampah. Plus mata merah bagi yang semalam kena jadwal ronda Siskamling.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Hehe…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Hal tersebut ditambah lagi dengan sikap pihak pengembang yang kurang bisa diajak bekerjasama. Meskipun tidak sampai membuat saya insomnia, namun banyaknya acara rapat formatur cukup membuat Permaisuri saya cemberut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Hehe…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Alhamdulillah berkat kemudahan yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta`ala, satu persatu agenda tim formatur terselesaikan. Anggota sekuriti berhasil direkrut dan berpindah status dari karyawan pengembang menjadi karyawan warga. Walaupun dengan penangguhan beberapa benefit, seperti Askes dan Jamsostek, sebagaimana yang biasa mereka dapat di tempat kerja sebelumnya.Tenaga kebersihan juga sudah disediakan walaupun masih bekerja setengah hari. Dan sampah warga juga diangkut dua hari sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Hal yang saya rasakan sangat membantu kerja tim formatur adalah dukungan dan kekompakan warga kompleks. Meskipun besaran iuran bulanan masih tergolong mahal, hampir tidak ada penolakan dari warga terhadap imbauan untuk ikut berpartisipasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Alhamdulillah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dan akhirnya setelah beberapa bulan berjalan dengan segenap kelebihan dan kekurangannya, tim formatur tiba juga pada agenda terakhir dan yang palig utama. Yaitu pembentukan RT / RW. Inilah agenda yang ditunggu-tunggu --salah satunya-- oleh para petugas sekuriti. Karena keberadaan RT / RW sebagai pihak employer merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kembali fasilitas Askes dan Jamsostek. Ini juga merupakan agenda yang saya tunggu-tunggu karena saya ingin segera pensiun dini dari jabatan bendahara tim formatur. Amanah ini bagi saya ibarat bola panas yang tidak ingin saya pegang lama-lama. High risk, begitu kata orang Jawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dengan jumlah total warga sebanyak 150 KK, sangat mepet sekali untuk bisa memenuhi keinginan warga untuk membentuk RW sendiri yang terpisah dari dari RW sekitarnya. Akan tetapi saya dibuat takjub oleh kemampuan olah data geospasial dari teman-teman tim formatur. Syarat minimal 3 RT dengan kerapatan penduduk 50 KK per-RT-nya sukses dibuat. Lengkap dengan pembagian wilayah kekuasaan masing-masing RT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Aktivitaspun berlanjut dengan penunjukan PJ untuk membentuk kepengurusan masing-masing RT. Karena termasuk bagian dari tim formatur, maka sayapun mendapat jatah tugas di wilayah RT saya. Meskipun di RT saya ada 3 orang PJ, kami hampir tidak pernah berkoordinasi dan berkomunikasi dalam pelaksanaan tugas kami. Alhasil, pada detik-detik terakhir, proses penyusunan pengurus RT diputuskan untuk diserahkan pada mekanisme voting.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dan dari sinilah “malapetaka” itu dimulai...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pada awalnya, saya merasa senang mendapat tugas dari kantor untuk masuk kerja pada akhir pekan. Saya berharap ketidakhadiran saya bisa menjadi alasan untuk tidak ditunjuk menjadi pengurus RT. Namun saya lupa. Ada postulat lain yang tidak saya perhitungkan: orang yang tidak hadir tidak bisa bersuara dan tidak bisa menolak apapun hasil rapat warga. Dan berbekal hasil perolehan suara, akhirnya saya didaulat oleh warga menjadi ketua RT selama beberapa waktu ke depan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;No excuse. Hehe..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Jika dilihat dari segi usia dan pengalaman, tentu saja saya minder dengan amanah yang baru ini. Ada banyak individu dari warga saya yang memiliki kapabilitas dan pengalaman yang jauh lebih banyak dari saya. Mengutip gurauan Permaisuri saya. Kecil-kecil jadi RT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Namun ada satu hal yang saya syukuri bahwa saya akhirnya bisa mundur dari tugas saya yang sekarang. Dan tidak lagi memegang amanah uang warga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kembali ke kisah di awal tulisan. Warga yang bertemu dengan saya di jalan adalah ketua tim formatur de-facto. Beliau sudah menyetujui permintaan pensiun dini dari saya. Dan ternyata, Beliau juga terpilih menjadi Ketua RT. Beliau di RT 1, dan saya di RT 3.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Well. Selamat bertugas Pak RT.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-2074215585192154033?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/2074215585192154033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=2074215585192154033' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/2074215585192154033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/2074215585192154033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2011/02/pak-rt.html' title='Pak RT'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-9216405201353944290</id><published>2010-10-20T19:43:00.000-07:00</published><updated>2010-10-21T07:15:42.834-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan Harian 20 Oktober 2010 (Pentingnya Ilmu Sebelum Amal)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Siang ini, ada ceramah ba`da Dhuhur di masjid dekat kantor. Dan inilah ringkasannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Orang-orang kafir memandang dunia ini adalah tempat untuk mendapatkan segala macam kenikmatan dan memuaskan segala macam hawa nafsunya. Sedangkan bagi orang-orang yang beriman, tidaklah pantas baginya untuk menjadikan akalnya sebagai sandaran dan tolak ukur dalam memandang kehidupan dunia. Adalah Allah Subhanahu Wa Ta`ala yang telah berfirman dalam Q.S. al-Mulk [67] ayat 2, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Abu Fida’ Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan --dalam kitab tafsirnya-- bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala menciptakan makhluk-makhluk-Nya untuk menguji mereka. Dia menguji makhluk-makhluk-Nya untuk melihat siapa yang terbaik amal ibadahnya di dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Manusia yang memahami bahwa kehidupan dunia sebagai sebuah ujian tentunya juga paham bahwa kehidupan dunia tak ubahnya serentetan pilihan yang datang beruntun silih berganti. Dari pilihan yang satu menuju kepada pilihan yang lain. Dan Allah Subhanahu Wa Ta`ala memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihannya. Allah berfirman dalam Q.S. al-Kahfi [18] ayat 29, “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir’”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Selalu ada dua pilihan yang tersedia, sebagaimana ditegaskan lagi oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala dalam Q.S. al-Balad [90] ayat 10, “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam menentukan pilihannya supaya selamat dalam meniti kehidupan dunia akhirat, seseorang tentu saja harus memiliki ilmu. Ilmu yang benar akan membawa seseorang kepada keselamatan dan kebahagiaan, dan sebaliknya, ilmu yang tidak benar akan menuntun seseorang ke arah kehancuran dan kepedihan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Namun seperti apakah ilmu yang benar itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Seorang ulama berpendapat bahwa ada dua kriteria ilmu yang dianggap benar di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Sebuah ilmu yang wajib hukumnya untuk diketahui oleh setiap Mukmin dan ketidaktahuan tentangnya akan membawa kepada kehancuran dan kecelakaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pertama, yaitu ilmu tentang ma`rifatullah atau mengenali Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Sifat-Sifat-Nya, Nama-Nama-Nya dan segala sesuatu tentang Allah Subhanahu Wa Ta`ala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kedua adalah ilmu tentang apa-apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala dan apa-apa yang dibenci-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Amatlah penting untuk mengetahui apa-apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala, namun jauh lebih penting untuk mengetahui apa-apa yang dibenci oleh-Nya. Jika melihat pada sejarah kehidupan Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam, kita bisa berkaca pada kisah hidup Abu Thalib, paman Nabi. Betapapun besarnya sumbangsih Abu Thalib bagi da’wah Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam dan syi’ar Islam; namun akhir hidupnya berujung pada kesengsaraan akhirat karena dia tidak menjaga diri dari hal-hal yang paling dibenci Allah Subhanahu Wa Ta`ala, yaitu kemusyrikan. Semua amal baik Abu Thalib selama hidup di dunia hilang tak berbekas di hadapan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam bersabda, “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Imam Ibnul Qayyim rahimahullah --dalam kitabnya yang berjudul “Madarijus Salikin”-- menjelaskan bahwa ada 7 langkah bertahap yang diambil iblis dan setan dalam menggoda manusia, dimana sebagian besarnya adalah dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Jika satu langkah tidak bisa menggoyahkan iman seseorang, maka dia akan menempuh langkah berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kesyirikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Bid’ah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dosa-dosa besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dosa-dosa kecil yang diremehkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Hal-hal mubah yang berlebihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Menyibukkan manusia pada ibadah-ibadah yang sifatnya hanya sebagai pelengkap saja, sehingga melalaikannya dari ibadah-ibadah yang utama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;7.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Meniupkan bisikan-bisikan kepada orang-orang yang lain agar membenci seseorang tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Selesai.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ceramah terpaksa saya tinggal karena saya belum makan siang. Namun inti dari penggalan ceramah tersebut adalah pentingnya ilmu sebelum beramal. Dan ilmu tentang hal-hal yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah hal yang paling penting. Karena menjauhi larangan Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah mutlak sifatnya, sedangkan melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah sebatas kemampuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Allah berfirman dalam Q.S. at-Taghabun [64] ayat 16, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam juga bersabda --sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari--, “Jika aku memerintahkan kepada kalian suatu perintah maka kerjakanlah semampu kalian. Dan apa saja yang telah aku larang, maka jauhilah”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-9216405201353944290?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/9216405201353944290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=9216405201353944290' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/9216405201353944290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/9216405201353944290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/10/catatan-harian-20-oktober-2010.html' title='Catatan Harian 20 Oktober 2010 (Pentingnya Ilmu Sebelum Amal)'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-3152659236516203824</id><published>2010-10-20T00:29:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T10:45:43.094-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan Harian 19 Oktober 2010</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sore ini saya pulang agak terlambat. Meskipun saya sudah berjanji pada Bunda Farras untuk pulang jam 5 tenggo. Namun ada sebuah kejadian yang membuat saya menunda kepulangan saya. Sebuah kejadian yang membuat saya sedikit banyak merenung dan berpikir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sudah hampir 6 bulan ini saya bertugas di kantor klien saya di bilangan Simatupang, Jakarta Selatan. Di lantai tempat saya bekerja, ada seorang petugas sekuriti. Namanya Pak Asep. Dan sore hari ini ketika saya melewati meja Pak Asep untuk melangkah pulang, dia bertanya kepada saya tentang masa kuliah saya. Apakah saya juga diajari bahasa pemrograman Pascal?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Waww.... Surprise surprise....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ternyata petugas sekuriti ini adalah seorang mahasiswa S1. Teknik Komputer pula. Ini adalah kejutan kedua dari Pak Asep. Setelah beberapa waktu yang lalu dia meminta bantuan saya untuk menjalankan sebuah software. Dan ketika saya melongok ke monitor di depannya, terpampanglah sebuah jendela biru IDE (Integrated Development Environment) Turbo Pascal versi 7.0.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;FYI, IDE adalah software yang digunakan untuk menulis kode program komputer. Sedangkan IDE Turbo Pascal versi 7.0 ini adalah software 32-bit jadul yang dibuat untuk lingkungan sistem operasi DOS dan --seharusnya-- dijalankan di atas komputer yang kecepatan pemrosesannya relatif lebih lambat dari yang ada sekarang. Oleh karenanya ketika Pak Asep menjalankan software ini, komputernya terus-menerus mengeluarkan pesan “Runtime Error” yang membingungkan. Untungnya saya ingat bahwa ini adalah bug dari Turbo Pascal 7.0 jika dia berjalan di lingkungan kerja yang serbacepat. Dan setelah saya menjalankan patch yang saya unduh dari internet, problem solved.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kembali ke kisah Pak Asep sore ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Demi mengetahui fakta yang menakjubkan ini, saya menjadi bertambah antusias untuk berdialog dengannya. Saya ceritakan banyak hal tentang perkuliahan saya. Tak lupa, saya juga sesekali bertanya mengenai perkuliahan yang sedang dijalani Pak Asep. Membesarkan hatinya, menyemangatinya untuk terus berusaha mengejar ilmu dan menyampaikan sebuah pesan yang jelas bahwa apa yang dilakukannya ini adalah hal yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Saya selalu berpendapat bahwa mencari ilmu adalah perjalanan yang tidak berujung. A never ending journey. Tidak peduli di titik mana Anda berada dalam hidup, proses pencarian ilmu tidak akan pernah mencapai garis finish. Anda akan terus belajar dan belajar karena memang itulah hakikat kemanusiaan. Dan ketika saya pulang ke rumah hari itu, saya semakin menyukai kalimat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Terus terang, saya malu bila mengingat-ingat betapa saya telah menyia-nyiakan usia saya dengan tidak serius menuntut ilmu. Dan hasil akhirnya bisa ditebak dari kompetensi dan wawasan saya yang pas-pasan ini. Namun meminjam perkataan orang Madura, “better late than never, tak iya”; tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sebuah kebaikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dan sore ini, saya pulang terlambat dengan kepala tegak dan senyum lebar. Untuk pertama kalinya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-3152659236516203824?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/3152659236516203824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=3152659236516203824' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/3152659236516203824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/3152659236516203824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/10/catatan-harian-19-oktober-2010.html' title='Catatan Harian 19 Oktober 2010'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-881834561286337681</id><published>2010-10-12T20:44:00.000-07:00</published><updated>2010-10-12T20:44:13.866-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan Harian 10 Oktober 2010</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Udara dingin langsung menerpa saya begitu saya membuka pintu rumah pagi ini. Sebenarnya, tidak ada yang berbeda dengan hawa pagi hari ini. Namun, dua hari ini, angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Salah seorang jamaah shalat Subuh di masjid kami memprediksi hal ini disebabkan karena perubahan musim. Mungkin ada benarnya juga, soalnya sudah beberapa hari ini tidak turun hujan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Namun yang lebih mengkhawatirkan saya adalah perasaan yang tidak enak di sekujur kerongkongan, hidung dan mata saya. Rupanya sistem imunitas saya sedang melakukan penggelaran pasukan sel darah putih menghadang virus flu yang datang menginvasi. Gaswat, pikir saya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tadi malam, permaisuri saya bercerita mengenai hal-hal yang terjadi di rumah seharian. Salah satunya adalah peristiwa jatuhnya Dede’ Naura di teras depan rumah. Perlu diketahui bahwa teras rumah kami berada beberapa centimeter di atas carport, dan Dede’ Naura ini (1 tahun 1 bulan) sudah bisa merangkak turun dari teras rumah ke bawah menuju carport. Sedangkan merangkak turunnya adalah maju ke depan, bukan mundur ke belakang. Dan ketika dia jatuh, maka wajahnyalah yang berada di bawah dan kakinya bertengger di teras rumah di atas tubuhnya. Nyungsep. Alhasil, bibirnya lecet karena tergores lantai carport kami yang permukaaanya masih kasar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Melihat lukanya yang berdarah, permaisuri saya segera melakukan pertolongan pertama (dan terakhir) dengan menempelkan es batu ke atas luka Dede’ Naura. Yang membuat saya geli dan sekaligus takjub adalah perkataan Mbak Farras kepada adiknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Yang sabar ya De’”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Begitu celotehnya berulang-ulang. Dan menurut Bundanya, perkataan ini adalah copy+paste dari perkataan Bundanya tiap kali mengobati luka lecet Mbak Farras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Lain waktu, Mbak Farras bermain bersama adiknya. Dan ketika menyuapkan sebatang jajanan stick, Mbak Farras mengulumnya terlebih dahulu kemudian menyuapkannya kepada Dede’ Naura. Itupun --ternyata-- adalah copy+paste juga dari perbuatan Bundanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Permaisuri saya memang agak ketat dalam masalah perisa makanan, vetsin, MSG, dan teman-temannya. Makanya ketika menyuapkan jajanan stick kepada Dede’ Naura, Bunda Farras mengulumnya terlebih dahulu untuk mengurangi kadar zat artifisial dalam makanan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dari awal, kami berdua memang sadar bahwa balita adalah peniru yang hebat. Hampir tidak ada gerak-gerik kami yang luput dari pengamatan balita kami. Oleh karenanya, kami berdua sangat berhati-hati dalam bersikap, bertindak maupun berbicara. Ada kalanya saya mengingatkan permaisuri saya jika dia lengah, begitu pula sebaliknya. Bahkan Mbak Farras-pun juga bertindak sebagai polisi di rumah kami. Ketika saya dengan tidak sadar sedang memamah biak sambil tiduran di atas kasur, spontan dia berkata..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Ayah, gak boleh maem kalih bobo’an”. [1]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;Catatan Kaki&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[1] Ayah, gak boleh makan sambil tiduran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-881834561286337681?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/881834561286337681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=881834561286337681' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/881834561286337681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/881834561286337681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/10/catatan-harian-10-oktober-2010.html' title='Catatan Harian 10 Oktober 2010'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-6858283271315615032</id><published>2010-08-13T02:08:00.000-07:00</published><updated>2010-08-13T02:08:40.540-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='redenominasi'/><title type='text'>Catatan Harian 10 Agustus 2010 (tentang Redenominasi, Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Redenominasi mata uang rupiah menjadi topik obrolan yang hangat akhir-akhir ini. Mulai dari obrolan santai hingga serius, mulai dari guyonan ringan pengendur urat syaraf hingga diskusi berat yang mengerutkan kening.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sebagai bentuk pengurangan nominal angka mata uang, istilah redenominasi seringkali disandingkan dengan kata lain: sanering. Namun, ada perbedaan menyolok di antara keduanya. Jika redenominasi hanyalah berwujud pada penulisan nominal mata uang yang lebih singkat atau sederhana, maka sanering diikuti pula oleh pemangkasan nilai uang. Artinya, ada prospek penurunan daya beli masyarakat. Atau dengan kata lain, pemiskinan massal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Menurut Gubernur BI, Darmin Nasution; sanering itu dilakukan jika daya beli mata uang merosot dengan cepat sehingga perlu dipotong atau sanering. [1] Situasi yang digambarkan oleh Gubernur BI tersebut pernah terjadi di Indonesia pada masa peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru dimana uang Rp. 1.000,- dipangkas menjadi Rp. 1,-. [2] Sedangkan di lain pihak, redenominasi mata uang -idealnya- hanya bisa dilakukan jika keadaan ekonomi stabil dan inflasi berada dalam kisaran yang rendah. [3]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Baiklah. Setidaknya, saya sudah bisa -sedikit- paham mengenai redenominasi dan sanering. Melanjutkan tulisan yang sebelumnya adalah ikhtisar yang kedua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sebagai akibat (atau lebih tepatnya manfaat) dari redenominasi mata uang adalah penulisan nominal mata uang yang lebih ringkas. Apalagi kalau bukan efisiensi namanya. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Tarko Sunaryo, Sekretaris Umum Insitut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). [4] Tentu saja saya bisa membayangkan jutaan lembar kertas bisa dihemat, ribuan batang pohon bisa tetap tegak di habitatnya dan ada lebih banyak karbon yang bisa dihisap oleh pucuk dedaunan. Wah, terbayang kota Depok yang masih tetap sejuk seperti ketika pertama kali ternodai oleh jejak kaki saya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Namun ketika Pak Tarko menyebutkan akan ada efisiensi bagi kebutuhan IT mengingat setiap angka nol membutuhkan ruang penyimpanan di harddisk komputer. Saya merasa sedikit janggal. Masuk akal sih. Namun dengan harga disk yang sudah mencapai US$ 0.821 per gigabyte [5] maka saya sangat tertarik untuk mengelaborasi sejauh mana efisiensi anggaran yang bisa dicapai oleh rekan-rekan di departemen IT.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ya sudahlah... Yang pasti maksud dari usaha redenominasi ini adalah hal yang mulia. Namun untuk mencapai tujuan yang mulia itu ternyata ada langkah-langkah yang harus dijalankan dengan ketat. Yang jika tidak dipatuhi akan berujung pada bencana finansial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Apakah itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[1] &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/08/04/128280-menkeu-wacana-redenominasi-masih-kajian-bi"&gt;http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/08/04/128280-menkeu-wacana-redenominasi-masih-kajian-bi&lt;/a&gt;. Diakses pada tanggal 13-Agustus-2010 pukul 14:23.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[2] &lt;a href="http://geraidinar.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=315:sanering-uang-kertas-lho-kok-masih-ada&amp;amp;catid=1:latest-news&amp;amp;Itemid=50"&gt;http://geraidinar.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=315:sanering-uang-kertas-lho-kok-masih-ada&amp;amp;catid=1:latest-news&amp;amp;Itemid=50&lt;/a&gt;. Diakses pada tanggal 13-Agustus-2010.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[3] &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/08/04/128320-redenominasi-dilakukan-saat-ekonomi-stabil-dan-sehat"&gt;http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/08/04/128320-redenominasi-dilakukan-saat-ekonomi-stabil-dan-sehat&lt;/a&gt;. Diakses pada tanggal 13-Agustus-2010 pukul 14:30.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[4] &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/08/09/129110-akuntan-redenominasi-wellcome-sekali"&gt;http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/08/09/129110-akuntan-redenominasi-wellcome-sekali&lt;/a&gt;. Diakses pada tanggal 13-Agustus-2010 pukul 14:57.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[5] h&lt;a href="ttp://ns1758.ca/winch/winchest.html"&gt;ttp://ns1758.ca/winch/winchest.html&lt;/a&gt;. Diakses pada tanggal 13-Agustus-2010 pukul 15:02.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-6858283271315615032?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/6858283271315615032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=6858283271315615032' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/6858283271315615032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/6858283271315615032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/08/catatan-harian-10-agustus-2010-tentang_13.html' title='Catatan Harian 10 Agustus 2010 (tentang Redenominasi, Bagian 2)'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-3873437470979287277</id><published>2010-08-10T02:45:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T02:45:18.304-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rupiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='redenominasi'/><title type='text'>Catatan Harian 10 Agustus 2010 (tentang Redenominasi, Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Redenominasi mata uang rupiah menjadi topik obrolan yang hangat akhir-akhir ini. Mulai dari obrolan santai hingga serius, mulai dari guyonan ringan pengendur urat syaraf hingga diskusi berat yang mengerutkan kening.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam bahasa sederhana, redenominasi adalah pengurangan angka mata uang yang tertulis dalam lembaran alat pembayaran maupun data transaksi finansial lainnya. Kali ini, redenominasi akan menghapus tiga angka nol paling belakang dari peredaran. Pecahan seribu menjadi serupiah, sepuluh ribu menjadi sepuluh rupiah, dan seterusnya ke atas. Sementara nasib pecahan ratusan ke bawah masih ghaib dari pengetahuan saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam benak saya, sudah terbayang begitu besar perubahan yang harus dirasakan dan dijalankan oleh masyarakat. Ada begitu banyak sistem yang harus dikonversi agar beradaptasi dengan keadaan. Ada jutaan data yang harus direvisi, milyaran man-hours yang harus dialokasikan, dan -tentu saja- mata uang yang harus dianggarkan untuk membiayai semua proses transformasi ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Baiklah. Mari kita singkirkan sejenak prasangka buruk dari seorang saya yang awam ini...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dengan sedikit googling, saya menemukan bahwa ide redenominasi mata uang rupiah berasal dari Kepala Biro Riset Ekonomi BI, Iskandar Simorangkir. [1] Meskipun masih berupa wacana, namun gaungnya sudah meluas hingga menembus gendang telinga saya yang notabene jarang mengikuti perkembangan berita. Dengan berbekal mesin pencari di situs Republika, maka saya mendapatkan pro-kontra dari para pakar ekonomi di negeri ini. Lumrah. Sebuah kebijakan pasti akan memancing polemik, apalagi yang menyangkut hajat hidup orang banyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dari berbagai macam pendapat dan informasi, paling tidak bisa saya buat ikhtisar sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pertama, redenominasi tidak sama dengan sanering. Redenominasi hanya mengurangi penulisan angka pada mata uang namun tidak diikuti oleh penurunan nilai mata uang. Dia hanyalah sebatas perubahan kesepakatan di kalangan masyarakat. Jika sebelumnya, naik angkot D07 dari Terminal Depok ke Mutiara Darussalam seharga Rp. 2.000,-. Maka pascaredenominasi, supir angkot hanya menerima lembaran Rp. 2,- saja. Dan tentu, harga bensin premium menjadi Rp. 4.5,- dan sepiring pecel Madiun dibandrol Rp. 7,-. Sesederhana itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Namun pada sanering tidaklah sedemikian. Sanering memangkas penulisan mata uang beserta nilai yang dibawanya sekaligus. Jika pada ilustrasi sebelumnya, sopir angkot D07 hanya meraup Rp. 2,- saja dari setiap penumpang. Sedangkan untuk mengisi tandon bahan bakar kendaraannya, maka dia harus nanar menatap bandrol premium yang masih dalam kisaran ribuan. Dengan alasan keekonomian, mungkin tarif angkot harus dinaikkan. Namun di sisi lain, ada pegawai swasta macam &lt;s&gt;saya&lt;/s&gt; penghuni Mutiara Darussalam yang meradang karena gajinya telah dipotong oleh pemerintah. Ujung-ujungnya bisa ditebak: CHAOS!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dengan logika sederhana seperti ini, bisa ditebak kapankah redenominasi bisa diterapkan, dan kapan harus ada sanering. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[1] &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/05/04/114303-redenominasi-rupiah-masih-tahap-wacana"&gt;http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/05/04/114303-redenominasi-rupiah-masih-tahap-wacana&lt;/a&gt;. Diakses pada tanggal 10-Agustus-2010 pukul 16:09.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-3873437470979287277?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/3873437470979287277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=3873437470979287277' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/3873437470979287277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/3873437470979287277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/08/catatan-harian-10-agustus-2010-tentang.html' title='Catatan Harian 10 Agustus 2010 (tentang Redenominasi, Bagian 1)'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-4295865311161542598</id><published>2010-08-09T02:40:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T02:40:37.265-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan 4 Agustus 2010 (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Fiqih -sebagai bentuk respon Islam terhadap perkembangan zaman- ternyata sudah mulai berkembang sejak zaman Khulafa’ur Rasyidin. Perkembangannya semakin pesat seiring dengan semakin luasnya wilayah kekhalifahan Islam, baik pada masa Khulafa’ur Rasyidin, Bani Umayyah maupun Bani Abbasiyah; yang menimbulkan ekses kepada masyarakat, berupa interaksi dengan berbagai macam budaya, adat istiadat, bahasa dan ilmu pengetahuan baru. Sedangkan di sisi lain, agama Islam telah mengajarkan kepada pemeluknya untuk senantiasa berhati-hati dalam menjalani hidupnya. Agar senantiasa berjalan dalam koridor dan tidak melampaui batas yang telah digariskan oleh Tuhan Alam Semesta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pagi ini, sambil mengunyah dan menggilas menu sarapan pagi, saya buka-buka kembali salah satu buku yang belum sempat saya selesaikan, yaitu buku mengenai Biografi Empat Imam Madzhab. Selama lima belas menit yang menyenangkan itu, saya hanya sanggup menyusuri gambaran singkat dari kondisi masyarakat yang melahirkan penghulu imam madzhab, Imam Abu Hanifah Nu`man bin Tsabit rahimahullah. Namun dari waktu yang singkat itu, saya mendapatkan sebuah gambaran menarik mengenai evolusi salah satu elemen dari hukum syariah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Fiqih masih belum lagi ada ketika Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam masih hidup. Hal ini karena kabar dari langit masih belum terputus, dan kedudukan Beliau Shalallahu `Alaihi Wasallam dalam Islam adalah otoritas mutlak dimana setiap taklimat Beliau mendapat perlakuan khas dari kaum Mukminin: sami`na wa atha`na. Namun, kondisi menjadi pelik ketika Malaikat Izrail menjemput Nabi Akhir Zaman tersebut. Tidak ada lagi otoritas mutlak yang ma`shum yang mengadili setiap permasalahan dan memberikan arahan dalam setiap keadaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Persentuhan peradaban Islam dengan peradaban asing yang dibuka oleh penaklukan-penaklukan wilayah baru menimbulkan gegar budaya dan agama. Ada hal-hal baru, adat istiadat dan gaya hidup yang sama sekali asing dengan segala sesuatu dimana Islam diturunkan dan diajarkan. Ada perkembangan teknologi yang tidak sempat terekam oleh teks-teks keagamaan, baik yang berasal dari Tuhan Semesta Alam maupun dari lisan suci Nabi Pamungkas. Hal ini yang ditambah dengan pindahnya pusat kekhalifahan dan mercusuar peradaban ke Baghdad semakin menambah jarak antara teks dengan konteks.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Maka disinilah kejeniusan para `ulama dalam menghadapi roda zaman. Berbagai macam instrumen nalar diciptakan untuk menarik hukum (istinbath) agar tetap searah dan sejalan dengan teks-teks Ketuhanan. Dalam pemahaman saya, inilah fitrah sebuah agama dimana pemeluknya telah diajari oleh Tuhan dan Utusan-Nya untuk senantiasa kembali kepada dua suluh yang terpercaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (an-Nisa` [4] : 59)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"Telah kutinggalkan untukmu dua perkara (pusaka), tidak sekali-kali kamu tersesat selamanya, selama kamu masih berpegang teguh kepada keduanya yaitu al-Qur'an dan Sunnahku". (HR. Al-Hakim dari Abu Hurairah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-4295865311161542598?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/4295865311161542598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=4295865311161542598' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/4295865311161542598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/4295865311161542598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/08/catatan-4-agustus-2010-bagian-1.html' title='Catatan 4 Agustus 2010 (Bagian 1)'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-1427274148887538948</id><published>2010-07-26T02:38:00.000-07:00</published><updated>2010-07-26T02:38:45.608-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan Harian 21 Juli 2010 (Bagian 2 / Habis)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Menjadi tua adalah menjadi semakin dewasa dan matang karena pengalaman. Menjadi orang tua adalah menjadi semakin irasional dan cengeng. Setidaknya dalam beberapa hal, menurut saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Berbicara mengenai irasional, di kantor klien tempat saya meronda selama beberapa bulan ini, ada satu hari dimana para karyawannya disuguhi buah-buahan. Biasanya selalu ada dua macam buah yang disuguhkan. Mereka menyebutnya Fruit Day. Namun tidak seperti rekan-rekan saya yang lain, saya memilih untuk memasukkan buah jatah saya ke dalam tas dan membawanya pulang untuk dinikmati bersama keluarga saya. Dan seringnya, saya tidak pernah kebagian. Hehe. Tidak ada yang aneh, kecuali jika mengetahui apa yang saya bawa pulang biasanya “hanya” beberapa butir anggur, dua buah jambu air atau sebuah jambu biji. Memang itulah jatah yang saya dapat, dan itu semua yang saya bawa pulang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Jika dipikir-pikir, berapa sih harga anggur, jambu air, jambu biji, atau apapun buah yang sempat saya bawa pulang. Sekadar membeli sekilo dari toko buah dekat rumah mungkin tidak terlalu mengguncang neraca keuangan rumah tangga kami. Namun, ada perasaan aneh tiap kali saya mendapat jatah buah-buahan itu. Ada perasaan tidak tega memakannya sebelum saya membawanya pulang dan menawarkannya terlebih dahulu kepada jantung hati saya di rumah. Anak dan istri saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dan perasaan semacam ini muncul juga ketika ada yang membagikan donat J-Co, burger, sebotol yoghurt atau sekaleng minuman ringan. Bahkan saya pernah membawa pulang sekerat pizza. Dalam kepala saya selalu terngiang-ngiang sebuah pertanyaan. Apakah ini konsekuensi menjadi orang tua? Menjadi semakin irasional terhadap apapun yang terkait dengan anak-anaknya. Tapi apapun itu, saya kembali teringat kata-kata Bapak saya. Ketika itu Beliau bercerita tentang tetangga kami yang memiliki anak yang sudah berkeluarga dan tinggal di lain kota. Di ujung cerita, Bapak berkata –yang kurang lebih- seperti ini: “Onoko lombok sak gegem, yo dibungkus dikekno anake”. Meskipun yang &amp;nbsp;ada hanya segenggam cabe, ya dibungkus dan diberikan ke anaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dan sepertinya, saya sekarang sedang menuju kesana...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Hal yang kedua adalah cengeng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Suatu kali saya bermain-main dengan sulung saya, Farras. Saat itu sambil membawa kantong plastik –yang diisi dengan apapun barang yang ditemuinya-, dia berceloteh ringan. Mau berangkat sekolah, katanya. Sambil mencium tangan saya, dia berjalan menjauhi saya seolah-olah hendak berangkat mencari ilmu di sekolah. Demi melihat punggungnya yang bergerak menjauh, sontak mata saya berkaca-kaca. Tidak terasa sudah dua tahun lebih usia Farras. Sebentar lagi, dia akan sekolah. Sibuk bermain dan belajar dengan teman-temannya. Kemudian dia akan kuliah. Jika tidak di UI yang di dekat rumah (amiin...), mungkin dia akan kuliah jauh di luar kota. Tiba-tiba akan ada lelaki asing datang ke rumah, melamarnya kemudian membawanya pergi meninggalkan rumah. Duh, padahal belum lama rasanya saya bermain-main dengannya. Menggendong dan memeluknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dan anehnya, dia masih berusia dua tahun dan saya sudah membayangkan hal-hal yang terlalu jauh ke depan. Menangis pula. Haha. Atau memang pada dasarnya saya ini orang yang cengeng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Entahlah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-1427274148887538948?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/1427274148887538948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=1427274148887538948' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/1427274148887538948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/1427274148887538948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/07/catatan-harian-21-juli-2010-bagian-2.html' title='Catatan Harian 21 Juli 2010 (Bagian 2 / Habis)'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-6938002606070699432</id><published>2010-07-21T20:24:00.000-07:00</published><updated>2010-07-21T20:24:42.422-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mui'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fatwa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan Harian 21 Juli 2010 (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ketika membaca status salah satu “friend” di halaman Facebook saya beberapa hari yang lalu, saya terkejut mengetahui bahwa –ternyata- ada polemik mengenai status kehalalan kopi luwak. Waduh, kemana saja saya selama ini? Akhirnya, setelah beberapa saat dijejali dengan rutinitas pekerjaan dan ehm..ehm... sifat pelupa saya; baru hari ini saya mencoba menggali sedikit informasi mengenai berita yang satu ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Bermula dari pertanyaan dari pihak PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) yang berencana memproduksi kopi luwak [1], MUI kemudian melakukan serangkaian penyelidikan dan pembahasan mengenai segala hal yang terkait dengan kopi, yang konon termahal di dunia, ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Bahan baku kopi luwak adalah buah kopi yang sudah matang sempurna atau masak di pohon. Kemudian buah kopi tersebut disuguhkan kepada luwak (&lt;i&gt;Paradoxurus hermaphroditus&lt;/i&gt;) untuk dimakan. Kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh luwak inilah yang membuatnya hanya memilih dan memakan buah-buah kopi yang terbaik. Setelah melalui proses pencernaan di perut luwak, biji-biji kopi yang masih keras dan tidak ikut tercerna keluar bersama tinja (kotoran) luwak. Dan selanjutnya, biji kopi akan melalui serangkaian proses normal sebagaimana kopi-kopi yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pertanyaan mengenai status kopi luwak muncul mengingat biji kopi yang menjadi bahan baku kopi luwak telah mengalami proses pencernaan dan fermentasi di dalam perut luwak dan kemudian keluar bersama tinja luwak. Apakah biji kopi yang keluar bersama tinja luwak termasuk barang najis? Apakah biji kopi tersebut termasuk bagian dari tinja luwak? Apakah tinja luwak termasuk barang najis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tanpa saya ketahui, ternyata pengkajian mengenai hal ini sudah dilakukan oleh para ilmuwan Islam beratus-ratus tahun yang lalu. Bahkan dasar-dasar hukumnyapun sudah ada dalam kumpulan hadits shahih Imam Bukhari dan Muslim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pertama, mengenai status tinja luwak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dari dua sumber hukum Islam, kita mendapati hadits shahih sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"Dahulu sebelum dibangun masjid nabawi, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan sholat di kandang kambing." (&lt;i&gt;Muttafaqun 'alaih&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"Beberapa orang dari kabilah 'Ukel dan Urainah singgah di kota Madinah, tidak berapa lama perut mereka menjadi &amp;nbsp;kembung dan bengkak karena tak tahan dengan cuaca Madinah. Menyaksikan tamunya mengalami hal itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk mendatangi onta-onta milik Nabi yang digembalakan di luar kota Madinah, lalu minum dari air kencing dan susu onta-onta tersebut." (&lt;i&gt;Muttafaqun 'alaih&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dari sini, ditarik sebuah kesimpulan bahwa kotoran hewan yang halal dimakan, baik berupa air seni maupun tinja, adalah suci. Tidak najis. [2] Sedangkan mengenai luwak sendiri, dia tidak termasuk dalam kriteria binatang yang haram dimakan. [3] Oleh karenanya, luwak dikembalikan kepada hukum asal bahwa segala sesuatu adalah halal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sebetulnya, dari sini saja sudah jelas bahwa status tinja luwak adalah halal. Apalagi biji kopi yang menyertainya. Namun, jika kita ingin menggali lebih jauh lagi, ada baiknya kita menyimak bahasan dari Dr. K.H. Ahmad Munif Suratmaputra, M.A., anggota Komisi Fatwa MUI Pusat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam buku-buku fikih, disebutkan bahwa biji-bijian yang keluar bersama kotoran atau muntah hewan itu dihukumi mutanajjis, dengan catatan biji-bijian itu keras, masih utuh, tidak berubah, yang indikasinya apabila biji-bijian itu ditanam, bisa tumbuh. Biji-bijian tersebut bisa menjadi suci karena dicuci dan halal dimakan. Namun, apabila biji-bijian itu telah berubah, dihukumi najis.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam kitab Fath al-Mu’in dengan syarah I’anah ath-Thalinin juz I, disebutkan bahwa apabila ada hewan memuntahkan biji-bijian atau keluar dari perutnya bersama fesesnya, lalu biji-bijian itu keras, masih utuh sehingga kalau ditanam bisa tumbuh; biji-bijian itu pun statusnya mutanajjis, tidak najis. Biji-bijian itu menjadi suci dengan cara dicuci dan halal dimakan.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Hal yang sama disebutkan dalam kitab Majmu’ Syarah Muhazzab juz II karya Imam Nawawi pada bab najis. Dengan demikian, apabila kopi luwak yang keluar dari perut luwak bersama kotorannya tersebut masih dalam kondisi utuh dan dipastikan tidak ada kotoran luwak yang merembes ke biji kopi tersebut; kopi luwak itu hanya mutanajjis (terkena /bersentuhan najis) sehingga bisa menjadi suci dengan cara dicuci dengan air mutlak. Hal ini akan membuat hilang ketiga macam sifatnya (warna, rasa, dan bau najis/feses luwak)&lt;/span&gt;. [4]&lt;/blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Demikianlah. Ternyata polemik mengenai kopi luwak berakhir dengan &lt;i&gt;happy ending&lt;/i&gt; bagi para penikmat kopi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;Refensi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
[1] http://news.okezone.com/read/2010/07/20/337/354702/337/mui-ptpn-yang-minta-ada-fatwa-soal-kopi-luwak&lt;br /&gt;
[2] http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/2287&lt;br /&gt;
[3] http://triatmono.wordpress.com/2009/03/06/yooo-ngaaaji-binatang-yang-haram-dimakan/&lt;br /&gt;
[4] http://bantenpost.com/view-op.php?page=BU/BNTP/06/10/0037KK/BNTP/006&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-6938002606070699432?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/6938002606070699432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=6938002606070699432' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/6938002606070699432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/6938002606070699432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/07/catatan-harian-21-juli-2010-bagian-1.html' title='Catatan Harian 21 Juli 2010 (Bagian 1)'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-283648717866178291</id><published>2010-07-13T20:04:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T20:04:48.997-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan Harian 12 Juli 2010</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tidak seperti biasanya, malam ini tersisa sedikit waktu untuk ngobrol berdua dengan permaisuri saya. Sesuatu yang sangat istimewa mengingat betapa repotnya Bunda Farras mengurus dua buah hati kami dan betapa aktivitas ini sangat menguras fisik dan emosinya. Di antara banyak hal yang kami bicarakan malam itu, ada satu hal yang ingin saya tuliskan kali ini. Yaitu mengenai perkembangan sulung kami, Farras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Menjadi orang tua adalah menjadi seorang pengamat, pembelajar, analis dan praktisi sekaligus. Dengan mengambil pengalaman dan pengetahuan dari banyak sumber, kami mencoba untuk mengamati, mempelajari, menganalisis segala tingkah laku anak-anak kemudian mencoba menerapkan metode pengasuhan yang kami anggap terbaik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dari perspektif saya, menarik sekali mengetahui betapa anak seusia Farras (2 tahun 4 bulan) sudah begitu nyambung ketika diajak ngobrol dan berkomunikasi. Dia sudah bisa memahami hampir semua bentuk pertanyaan. “How”, “what”, “who”, “why”, dan “where”. Hanya bentuk “when” yang belum bisa dipahami, minimal dijawab oleh Farras. Mungkin masih terlalu sulit bagi anak seusianya untuk membayangkan sesuatu yang abstrak, seabstrak proyeksi waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Menghadapi fenomena semacam ini, Bunda Farras memiliki sebuah hipotesis bahwa sistem logika Farras sudah terbentuk sedemikian rupa sehingga dia bisa meramu berbagai informasi yang dia dapat dan ingat. Memproses sebentuk kalimat tanya dan kemudian meresponnya dalam sebentuk jawaban. Meskipun jawabannya sesederhana kata “iya” atau “enggak”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Namun saya memiliki perspektif yang berbeda dengan bundanya. Saya beranggapan bahwa Farras telah memiliki cukup banyak koleksi tanya jawab hasil dari proses interaksi kami selama ini. Dari gudang memorinya, Farras mencocokkan kalimat tanya yang diterimanya dan kemudian menyuguhkan jawaban dari berbagai alternatif pilihan yang dia miliki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Benar tidaknya hipotesis tersebut kami juga tidak tahu. Namun berangkat dari hal tersebut, saya berpendapat bahwa intensitas komunikasi antara orang tua dan anak akan berpengaruh terhadap perbendaharaan kata dan makna yang dimiliki oleh si anak. Semakin intens oran tua berkomunikasi dengan anak, maka semakin kaya pula perbendaharaan kata dan makna yang dimiliki oleh sang buah hati. Pun demikian pula sebaliknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Maka, inilah –menurut saya- saat yang tepat untuk mengisi akal anak dengan nilai-nilai dan norma-norma yang kami percayai. Baik-buruk, benar-salah, hitam-putih. Lewat mekanisme inilah kami membentuk kepribadian anak. Menanamkan nilai-nilai sederhana mengenai Tuhan, surga dan neraka. Memberikan pemahaman bahwa bermain di luar rumah harus dalam keadaan berjilbab. Menjadi anak yang shalihah adalah hal yang luar biasa. Dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Lewat Farras inilah salah satu cara kami menggambar lukisan masa depan. Baik buruknya masa tua kami, dan baik buruknya akhirat kami –salah satunya- akan tergantung sebaik apakah saya merawat investasi berupa anak ini. Bukan tugas yang ringan mengingat betapa banyak orang-orang yang jauh lebih baik dari kami gagal mendapatkan lukisan masa depan yang mereka inginkan. Namun apapun itu, tugas kami hanyalah berusaha. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memudahkan jalan kami dan semua orang tua yang menginginkan lukisan masa depan yang terbaik, sesuai dengan apa yang dicita-citakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-283648717866178291?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/283648717866178291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=283648717866178291' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/283648717866178291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/283648717866178291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/07/catatan-harian-12-juli-2010.html' title='Catatan Harian 12 Juli 2010'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-1120843067196090661</id><published>2010-07-07T20:48:00.000-07:00</published><updated>2010-07-07T20:49:06.803-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan Harian 08 Juli 2010</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pagi ini saya membaca tulisan Pak Djoko Suud Sukahar di Detiknews. [1] Dalam tulisannya, Beliau memberikan respon terhadap anjuran Aburizal Bakrie (Ical) agar para kader Golkar meniru cara tikus dalam berpolitik. "Kita politisi bekerja keras, main taktis. Jangan kemudian kita dalam permainan itu menggigit terus. Golkar harus berprinsip seperti tikus, ngendus, baru gigit". [2] Begitu kata Ical dalam sambutannya di acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Partai Golkar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam konteks strategi berjuang, saya pikir anjuran Ical ini, secara teknis, masuk akal. Sekali lagi saya katakan “secara teknis” karena masalah “untuk tujuan apa strategi tersebut digunakan” sudah berada di luar semesta pembicaraan. Bahkan sebagai manusia yang berpikir, adalah wajar jika kita mencari hikmah, ibrah, dan pembelajaran dari apapun yang terjadi di sekeliling kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Namun bukan itu tema yang saya angkat kali ini. Saya ingin kembali ke Kolom Djoko Suud tersebut. Dalam sebelas paragraf tulisannya, pemerhati budaya tersebut lebih mengulas mengenai simbolisasi tikus. Alih-alih mengafirmasi atau mempertegas stigma negatif masyarakat mengenai tikus, Beliau mencoba menawarkan perspektif baru mengenai hewan pengerat itu: bahwa tidak selamanya tikus dianggap jelek.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Berbagai warta dikisahkan mulai dari cindil (anak tikus) yang “sering dilahap di desa” sebagai obat kuat hingga miras cap tikus favorit nyong Manado. Pak Djoko Suud (mungkin) bukan orang teknis atau seorang ilmuwan. Beliau adalah seorang pengamat budaya, setidaknya itulah yang tertulis di situs Detiknews. Jadi, berharap data empiris sebagai basis pemilihan kata “sering” di atas adalah mustahil. Saya juga yakin Beliau tidak bisa menyebutkan berapa desa dari ratusan ribu desa di Indonesia yang memilih cindil sebagai obat kuat. Apalagi plus tambahan kata “sering”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Saya tidak tahu apakah Pak Djoko Suud menaruh perhatian pada nilai-nilai agama, namun penggunaan miras sebagai nilai positif adalah hal yang mengkhawatirkan. Meskipun menenggak miras adalah hal yang menyenangkan bagi sebagian orang, namun ditinjau dari segi kesehatanpun, miras adalah barang laknat. Apalagi jika kita menambahkan variabel “miras oplosan” yang telah menuai sukses mengantar orang-orang menuju akhir hidup dengan kesia-siaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sebagai individu, Pak Djoko Suud berhak untuk beropini dan berwacana. Pun saya juga demikian. Oleh karenanya, saya berhak untuk berpendapat bahwa dalam tulisannya ini, Pak Djoko Suud sangat memaksakan diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[1] &lt;a href="http://us.detiknews.com/read/2010/07/07/092838/1394503/103/ical-dan-politisi-tikus"&gt;http://us.detiknews.com/read/2010/07/07/092838/1394503/103/ical-dan-politisi-tikus&lt;/a&gt;, diakses pada tanggal 08-Juli-2010 pukul 09:58 WIB.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;[2] &lt;a href="http://www.jakartapress.com/www.php/news/id/14503/Ical-Golkar-Harus-Seperti-Tikus.jp"&gt;http://www.jakartapress.com/www.php/news/id/14503/Ical-Golkar-Harus-Seperti-Tikus.jp&lt;/a&gt;, diakses pada tanggal 08-Juli-2010 pukul 09:44 WIB.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-1120843067196090661?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/1120843067196090661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=1120843067196090661' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/1120843067196090661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/1120843067196090661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/07/catatan-harian-08-juli-2010.html' title='Catatan Harian 08 Juli 2010'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-2854031643582700507</id><published>2010-05-04T20:24:00.000-07:00</published><updated>2010-05-04T20:24:21.132-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan Harian 5 Mei 2010</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Hari ini adalah salah satu hari spesial bagi keluarga kami. Hari ini Bapak genap berusia 54 tahun. Dan empat tahun sudah berlalu semenjak Beliau mengutarakan sebuah permintaan yang tidak biasa kepada semua putranya, termasuk saya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Hari ini genap empat tahun hutang saya yang masih belum terlunaskan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Bapak dilahirkan di sebuah keluarga sederhana di Surabaya. Meskipun keluarga besar almarhum Kakek berisi banyak individu-individu berpendidikan tinggi, namun agaknya Kakek memilih jalan berbeda dalam mendidik putra-putrinya termasuk Bapak. Pensiun dengan pangkat Mayor (E) dari Angkatan Laut, seharusnya tidak sulit bagi Kakek untuk memberikan kesempatan bagi Bapak menikmati jenjang pendidikan tinggi, apalagi Beliau adalah anak sulung dan satu-satunya laki-laki dari empat bersaudara. Namun kenyataan berbicara lain. Bapak mengakhiri pendidikan formalnya hanya sampai SMA.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Namun, Bapak adalah sosok pembelajar sejati. Ada lebih banyak hal yang Beliau pelajari sendiri. Rumah kami adalah monumen sekaligus saksi bahwa ada begitu banyak kerja keras dalam proses pembelajaran Beliau. Tanaman-tanaman yang menyuguhkan lingkungan hijau asri adalah proses pembelajaran Beliau. Furnitur yang mempercantik dan melengkapi interior rumah adalah proses pembelajaran Beliau. Bahkan sebagian struktur penyusun bangunan rumah kami adalah proses pembelajaran Beliau.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Inilah salah satu jalan yang juga ingin saya tempuh. Tidak peduli apapun hasil akhirnya, pembelajaran adalah sebuah kisah tentang proses. Proses memahami, proses mengetahui dan proses menuju kedewasaan. Kelak saya juga ingin melihat wajah anak-anak saya sebagaimana wajah saya yang bangga menatap sosok Bapak. Sosok hidup yang menceritakan sebuah kisah tentang proses belajar yang tidak pernah berhenti kecuali maut datang menghampiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Bapak adalah sebuah kisah tentang etos kerja. Kisah tentang seseorang yang tidak pernah terlambat masuk kerja selama lebih dari 30 tahun masa dinas Beliau. Juga kisah tentang seseorang yang tidak pernah terpejam bahkan sekejappun di ruang kerja tanpa peduli shift apa yang sedang dijalani. Kisah Bapak adalah sebuah cermin bagi saya tentang bagaimana memaknai kerja dan menikmati pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Meskipun prestasi saya tidaklah sefantastis Bapak, namun rekam jejak Beliau adalah acuan dan penyemangat bagi saya bahwa selalu ada ruang untuk peningkatan diri. Selalu ada waktu untuk sebuah niat melakukan perubahan. Kata orang, better late than never.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Bapak adalah sebuah kisah pengabdian. Pengabdian kepada anak, pengabdian kepada keluarga, dan pengabdian kepada masyarakat. Sebuah kisah tentang dedikasi orang tua dalam mempersiapkan masa depan yang baik bagi putra-putranya. Walaupun dengan mengorbankan kesempatan untuk menikmati kesenangan hidup yang sebenarnya tampak di depan mata dan terjangkau oleh genggaman tangan. Sebuah kisah tentang dedikasi seorang suami yang menjalani kesendirian demi tugas dan tanggung jawab, jauh dari kehangatan istri dan anak-anak yang dicintai. Sebuah kisah tentang dedikasi seorang pemimpin yang membaktikan umurnya untuk menata masyarakat walaupun jauh dari publikasi dan imbal jasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Bapak adalah sebuah kisah tentang ketidaksempurnaan manusia. Makhluk Tuhan yang berjalan dan menguasai dunia. Ada banyak ketidaksempurnaan, walaupun semuanya tertutup oleh kebaikan dan niat tulus untuk perbaikan. Oleh karenanya, Bapak tidak henti-hentinya belajar. Kepada teman, tetangga, orang tua, bahkan kepada anak-anak yang senantiasa dididiknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Bapak adalah sepasang sayap yang kukuh. Melindungi dan menaungi sayap-sayap kecil nan rapuh, membawanya berkeliling menghadapi terpaan angin dan gelombang kehidupan. Tapi itu dulu. Sayap-sayap kukuh itu juga makhluk Tuhan yang tunduk pada aturan-Nya, menuruni jalan menurun menuju ke tempat tujuan. Sedangkan sayap-sayap kecil dalam dekapannya, kini berubah membesar. Menguat dan bersiap menggantikan perannya sebagai sayap-sayap kukuh yang baru. Sembari merengkuh sayap-sayap rapuh yang baru, menggandeng pula sayap-sayap Bapak yang kini telah menua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Saya adalah bagian dari sayap-sayap kukuh yang baru. Meskipun masih hijau dalam memahami gelombang samudera, saya ingin memberi kesempatan kepada sayap-sayap Bapak untuk beristirahat sejenak. Menikmati awal senja kehidupan. Memandangi kami, anak-anaknya, dalam diam dan kebahagiaan. Menjadi navigator yang mengingatkan ketika kami oleng dan salah jalan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Saya ingin Bapak beristirahat sejenak. Merasakan kenikmatan yang dulu Beliau tunda demi kami, anak-anaknya. Memberi perhatian lebih pada diri dan belahan jantungnya, Ibunda kami yang tidak pernah cuti mengurus anak-anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Saya ingin Bapak beristirahat sejenak. Mempersiapkan bekal demi perjalanan maha panjang dan maha berat berikutnya. Perjalanan akhir menuju titik fana. Dimana tidak ada satupun penolong melainkan budi baik dan amal ibadahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Jikalau Tuhan berkehendak menjadikan saya saksi, maka demi Dzat yang Maha Perkasa saya bersaksi, bahwa makhluk lemah di hadapan-Mu ini telah menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua dengan sesungguh-sungguhnya, mendidik darah dagingnya dengan segenap kemampuannya. Oleh karenanya, saya memohon agar jangan lagi ada kesusahan dan kesedihan di alam fana sebagai rahmat dan ampunan atas ketidaksempurnaan pengabdiannya sebagai manusia yang tidak bebas dari cacat dan cela.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” Q.S. Luqman (31) : 14&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S-DkwYpGjyI/AAAAAAAAAGU/i8_HJdfCwYE/s1600/bapak-ibu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S-DkwYpGjyI/AAAAAAAAAGU/i8_HJdfCwYE/s320/bapak-ibu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-2854031643582700507?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/2854031643582700507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=2854031643582700507' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/2854031643582700507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/2854031643582700507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/05/catatan-harian-5-mei-2010.html' title='Catatan Harian 5 Mei 2010'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S-DkwYpGjyI/AAAAAAAAAGU/i8_HJdfCwYE/s72-c/bapak-ibu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-6857306847957548636</id><published>2010-04-21T21:13:00.000-07:00</published><updated>2010-04-21T21:13:44.360-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='3d model'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='google sketchup'/><title type='text'>Belajar SketchUp: Edisi Baiti Jannati (Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Alhamdulillah, sekarang sudah masuk ke bagian 2. Disini lebih banyak dikupas tentang pembuatan aksesoris di bagian eksterior rumah. Ada banyak detail-detail sederhana yang harus dibuat sehingga yang lebih banyak disorot adalah spesifikasi dan ukuran-ukuran bangunnya; dan sedikit saja menyentuh teknis pembuatan model 3D-nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;i&gt;Let's enjoy the second phase.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Bon Appétit...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em style="font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em style="font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;div style="display: inline !important;"&gt;1.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Untuk memudahkan proses pembuatan lantai pada interior rumah, gunakan tool “Section Plane” yang diletakkan sejajar dengan permukaan tanah setinggi kira-kira “20cm”.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em style="font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em style="font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_LpoAEkiI/AAAAAAAAAEc/qMzVkWIvqGs/s1600/fase2-01.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_LpoAEkiI/AAAAAAAAAEc/qMzVkWIvqGs/s320/fase2-01.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Buat sebuah bidang 2 dimensi pada bagian bawah rumah dengan cara membuat sebuah garis yang menghubungkan 2 titik pojok rumah yang saling bersebelahan. Kemudian dengan menggunakan tool “Push/Pull” tarik bidang tersebut ke atas setinggi lantai teras yang sudah dibuat pada Fase 1 yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_Lt35eFZI/AAAAAAAAAEk/oHYTqpYXRKw/s1600/fase2-02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_Lt35eFZI/AAAAAAAAAEk/oHYTqpYXRKw/s320/fase2-02.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Hilangkan tool “Section Plane”. Sekarang kita akan membuat kusen untuk pintu depan dengan ukuran seperti pada gambar di samping. Untuk melubangi dinding, gunakan tool “Push/Pull” dan dorong masuk bidang pintu sejauh tebal dinding (11cm).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_L1hGQS3I/AAAAAAAAAEs/X6HdC8YZfn4/s1600/fase2-03.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_L1hGQS3I/AAAAAAAAAEs/X6HdC8YZfn4/s320/fase2-03.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Berikutnya adalah membuat kusen untuk jendela depan dengan spesifikasi seperti pada gambar di bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_L5bNuLTI/AAAAAAAAAE0/keQH6SN2I9k/s1600/fase2-04.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_L5bNuLTI/AAAAAAAAAE0/keQH6SN2I9k/s320/fase2-04.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Kusen yang sama juga dibuat di dinding samping rumah. Pertama berjarak 130cm dari dinding depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_L9C7khiI/AAAAAAAAAE8/3LDLmQLLOxE/s1600/fase2-05.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_L9C7khiI/AAAAAAAAAE8/3LDLmQLLOxE/s320/fase2-05.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sedangkan kusen samping yang kedua berjarak 201cm dari kusen pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MD6u4xkI/AAAAAAAAAFE/4iOlSudyies/s1600/fase2-06.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MD6u4xkI/AAAAAAAAAFE/4iOlSudyies/s320/fase2-06.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Dan kusen untuk pintu serta jendela belakang berjarak 120cm dari kusen kedua, namun dengan spesifikasi yang berbeda. Sebagaimana terlihat dari gambar di bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MIFwoFkI/AAAAAAAAAFM/4LMcTMXlSaY/s1600/fase2-07.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MIFwoFkI/AAAAAAAAAFM/4LMcTMXlSaY/s320/fase2-07.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Di muka depan sebelah kanan, juga dibuat kusen jendela dengan spesifikasi seperti pada gambar di bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MNmU9isI/AAAAAAAAAFU/ZIp4duBpxO0/s1600/fase1-08.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MNmU9isI/AAAAAAAAAFU/ZIp4duBpxO0/s320/fase1-08.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Lubangi semua kusen dengan menggunakan tool “Push/Pull”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MSsDYTfI/AAAAAAAAAFc/aR49QG-rEPk/s1600/fase2-09.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MSsDYTfI/AAAAAAAAAFc/aR49QG-rEPk/s320/fase2-09.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Di atas ketiga kusen jendela yang memiliki spesifikasi sama, buat bentuk kotak berukuran “135cm,15cm” dengan posisi sejajar dengan kusen berada 10cm di atas lubang angin. Tarik keluar kotak tersebut dengan tool “Push/Pull” sejauh “60cm”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MXIzJUJI/AAAAAAAAAFk/-8qW3TOSI2A/s1600/fase2-10.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MXIzJUJI/AAAAAAAAAFk/-8qW3TOSI2A/s320/fase2-10.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Tarik keluar atap samping kiri rumah dengan tool “Push/Pull” sejauh “50cm”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MaxMBU8I/AAAAAAAAAFs/DmCJdXCr3Qo/s1600/fase2-11.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MaxMBU8I/AAAAAAAAAFs/DmCJdXCr3Qo/s320/fase2-11.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Di bawah tempat pertemuan antara atap tengah dengan atap belakang, buat sebuah kotak dengan ukuran seperti pada gambar di samping dengan menggunakan tool “Line”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MfN5fWRI/AAAAAAAAAF0/z9yyaNuNQyA/s1600/fase2-12.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MfN5fWRI/AAAAAAAAAF0/z9yyaNuNQyA/s320/fase2-12.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Dengan bantuan tool “Follow Me”, beberapa garis sebagai jalurnya dan sebuah lingkaran sebagai bidangnya, buat pipa pembuangan air seperti pada gambar di bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MjzpwY3I/AAAAAAAAAF8/bf45uh3IFiI/s1600/fase2-13.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MjzpwY3I/AAAAAAAAAF8/bf45uh3IFiI/s320/fase2-13.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil akhir:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MnQwslZI/AAAAAAAAAGE/Uj3zZlK2Ccw/s1600/fase2-akhir1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_MnQwslZI/AAAAAAAAAGE/Uj3zZlK2Ccw/s320/fase2-akhir1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_Mq11nzFI/AAAAAAAAAGM/4J-gLjuM1YM/s1600/fase2-akhir2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_Mq11nzFI/AAAAAAAAAGM/4J-gLjuM1YM/s320/fase2-akhir2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-6857306847957548636?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/6857306847957548636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=6857306847957548636' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/6857306847957548636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/6857306847957548636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/04/belajar-sketchup-edisi-baiti-jannati_21.html' title='Belajar SketchUp: Edisi Baiti Jannati (Bagian 2)'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S8_LpoAEkiI/AAAAAAAAAEc/qMzVkWIvqGs/s72-c/fase2-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-2044748930666392709</id><published>2010-04-20T11:28:00.000-07:00</published><updated>2010-04-20T11:28:56.408-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='3d model'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='google sketchup'/><title type='text'>Belajar SketchUp: Edisi Baiti Jannati (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Hari-hari ini saya sedang keranjingan belajar membuat model 3D dengan menggunakan Google SketchUp. Jadi, berikut ini adalah hasil belajar saya dengan korban berupa sebuah rumah di kawasan Mutiara Darussalam, Depok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Let's the first phase begin..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Buat sebuah kotak dengan ukuran “3m, 711cm”. Kemudian dengan tools “Push/Pull”, tarik kotak ke atas setinggi “320cm”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83j_C635FI/AAAAAAAAACc/DchiMqmf-Ak/s1600/fase1-01.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83j_C635FI/AAAAAAAAACc/DchiMqmf-Ak/s320/fase1-01.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Buat sebuah garis di tengah-tengah kotak yang sejajar dengan sumbu garis merah. Kemudian tarik bagian tengah garis tersebut ke atas setinggi “294cm” dengan menggunakan tool “Move”. Dua bagian yang miring tersebut nantinya akan berfungsi sebagai atap depan dan atap tengah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83mu3bqO3I/AAAAAAAAACk/Vo9JDlNfImU/s1600/fase1-02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83mu3bqO3I/AAAAAAAAACk/Vo9JDlNfImU/s320/fase1-02.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Di sebelah kanan bangun tersebut, ambil jarak “1.10m” dari arah depan kemudian buat sebuah garis vertikal keatas setinggi “4.37m”. Dari ujung atas garis tersebut, buat sebuah garis ke atas yang sejajar dengan atap depan sepanjang “2.98m”. Kemudian dari situ, tarik garis ke bawah yang sejajar dengan atap tengah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rnoNVUXI/AAAAAAAAAEE/Izt_IcCmAnE/s1600/fase1-14.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rUa312EI/AAAAAAAAACs/EVZ56RVYwXA/s1600/fase1-03.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rUa312EI/AAAAAAAAACs/EVZ56RVYwXA/s320/fase1-03.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kemudian dengan tool “Push/Pull” tarik keluar bidang yang beru terbentuk sejauh “3m”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rWIfls1I/AAAAAAAAAC0/HZ46thN4V9s/s1600/fase1-04.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rWIfls1I/AAAAAAAAAC0/HZ46thN4V9s/s320/fase1-04.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pada bagian atap tengah, buat sebuah garis vertikal yang memanjang dari atas ke bawah. Kemudian di ujung bawah bagian atap tengah, buat sebuah kotak vertikal ke atas yang sejajar dengan sumbu garis biru setinggi “20cm” dan memanjang sepanjang bidang rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rXwo6-TI/AAAAAAAAAC8/ORIGY58_o2s/s1600/fase1-05.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rXwo6-TI/AAAAAAAAAC8/ORIGY58_o2s/s320/fase1-05.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kemudian dengan tool “Follow Me”, tarik kotak tersebut menyusuri permukaan atap dari tengah kemudian ke atas kemudian ke depan. Lakukan hal tersebut baik untuk bidang atap sebelah kanan, maupun sebelah kiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83raF55fII/AAAAAAAAADE/PJ4xfqZhcLc/s1600/fase1-06.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83raF55fII/AAAAAAAAADE/PJ4xfqZhcLc/s320/fase1-06.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;7.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dengan tool “Push/Pull”, tarik bagian depan atap memanjang keluar sejauh “50cm”. Lakukan hal ini pada bagian atap kiri maupun bagian atap kanan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rbcSEILI/AAAAAAAAADM/87v-d1xLyek/s1600/fase1-07.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rbcSEILI/AAAAAAAAADM/87v-d1xLyek/s320/fase1-07.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;8.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Di bagian belakang bangun rumah, buat sebuah kotak yang sejajar dengan sumbu garis merah dan hijau dengan ukuran “6m, 2.25m”. Kemudian dengan tool “Push/Pull”, tarik kotak tersebut ke atas setinggi “3.20m”. Tarik bagian tengah garis belakang kotak yang aru tersebut ke atas setinggi “0.99m” dengan menggunakan tool “Move”. Ini digunakan sebagai bagian atap belakang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rdgpsxaI/AAAAAAAAADU/OXgDasnbiyM/s1600/fase1-08.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rdgpsxaI/AAAAAAAAADU/OXgDasnbiyM/s320/fase1-08.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;9.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Lanjutkan dengan membuat garis-garis yang dibutuhkan untuk membuat bidang genting meneruskan bidang serupa yang dibuat dari langkah 6 di atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rfTBvewI/AAAAAAAAADc/kQ4U2auEP0I/s1600/fase1-09.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rfTBvewI/AAAAAAAAADc/kQ4U2auEP0I/s320/fase1-09.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pada bagian depan atap, tarik masing-masing bagian atap ke arah yang berlawanan sejauh “72cm” dengan menggunakan tool “Push/Pull".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rioLm2VI/AAAAAAAAADk/1u4YC0BY-64/s1600/fase1-10.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rioLm2VI/AAAAAAAAADk/1u4YC0BY-64/s320/fase1-10.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;11.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Untuk membuat dinding pada bagian interior rumah, gunakan tool “Offset” dengan ketebalan sebesar “20cm”. Setelah itu, gunakan tool “Push/Pull” dan dorong ke atas sejauh “3m” untuk melubangi bagian dasar bangun rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rkK2bDeI/AAAAAAAAADs/2gBvoxPUJG4/s1600/fase1-11.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rkK2bDeI/AAAAAAAAADs/2gBvoxPUJG4/s320/fase1-11.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;12.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Untuk membuat lantai, terlebih dahulu letakkan sebuah “Section Plane” untuk menyembunyikan bagian atas bangunan. Kemudian gambar sebuah garis menyusuri dinding bagian bawah rumah untuk membentuk sebuah bidang. Dengan menggunakan tool “Push/Pull”, tarik bidang tersebut ke atas sejauh “20cm”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rkwDNa2I/AAAAAAAAAD0/OojgOS40-vI/s1600/fase1-12.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rkwDNa2I/AAAAAAAAAD0/OojgOS40-vI/s320/fase1-12.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;13.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kemudian buat aksesoris aksterior bagian depan rumah dengan ukuran sebagaimana terlihat pada gambar di samping.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rmm3ZqPI/AAAAAAAAAD8/vvwM4s4NE2g/s1600/fase1-13.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rmm3ZqPI/AAAAAAAAAD8/vvwM4s4NE2g/s320/fase1-13.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;14.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Langkah berikutnya adalah membuat sebuah kotak yang sejajar dengan sumbu garis hijau dengan ukuran “2cm, 10cm”. Kemudian buat garis dari kotak tersebut mengitari bagian depan dan samping kiri dari bangunan rumah. Dengan tool “Follow Me”, gunakan garis ini sebagai jalur untuk membuat aksesoris sabuk rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rnoNVUXI/AAAAAAAAAEE/Izt_IcCmAnE/s1600/fase1-14.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83rnoNVUXI/AAAAAAAAAEE/Izt_IcCmAnE/s320/fase1-14.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Hasil akhir..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83x9IUHZmI/AAAAAAAAAEM/SUyOQubvwWM/s1600/fase1-akhir1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83x9IUHZmI/AAAAAAAAAEM/SUyOQubvwWM/s320/fase1-akhir1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83yBur4xxI/AAAAAAAAAEU/JAftvTmTgXI/s1600/fase1-akhir2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83yBur4xxI/AAAAAAAAAEU/JAftvTmTgXI/s320/fase1-akhir2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-2044748930666392709?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/2044748930666392709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=2044748930666392709' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/2044748930666392709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/2044748930666392709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/04/belajar-sketchup-edisi-baiti-jannati.html' title='Belajar SketchUp: Edisi Baiti Jannati (Bagian 1)'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S83j_C635FI/AAAAAAAAACc/DchiMqmf-Ak/s72-c/fase1-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-5068314955799402966</id><published>2010-04-15T02:38:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T02:39:34.346-07:00</updated><title type='text'>Catatan Harian 14 Apr 2010</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Siang ini, saya memilih berwisata kuliner di warung makan depan Masjid As-Sakinah selepas shalat Dhuhur berjamaah. Ini di luar kebiasaan saya, karena beberapa saat sebelumnya, saya harus berpetualang jauh ke Galeri Indosat di Jalan Margaguna untuk menutup nomor Starone saya. Alhamdulillah, saya mendarat kembali di parkiran motor Gedung Arkadia pas ketika adzan Dhuhur berkumandang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Setelah memilih menu kuliner siang, saya mengambil tempat duduk di bagian luar karena bagian dalam warung makan sudah penuh. Beruntung juga saya mendapat posisi di luar karena saat itu sedang hujan deras, sehingga cuaca menjadi relatif lebih sejuk. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sambil menikmati hidangan sayur daun singkong bertabur mendoan dan tahu goreng, saya mengarahkan pandangan ke sekeliling saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Di teras rumah di depan saya, tampak seorang bapak duduk berteduh. Bapak ini seorang pengamen, dan tampaknya, dia terjebak oleh hujan lebat sehingga masih tertahan di sekitar warung makan dimana saya singgah saat ini. Bapak itu duduk termenung di pagar tembok depan rumah. Matanya menerawang jauh ke atas seolah tidak terusik oleh berisik air hujan dan kilat yang menyambar bersahutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam hati saya bertanya, apa yang sedang dipikirkan oleh bapak itu ya. Ah, entahlah. Saya tidak berani berandai-andai. Saya hanya bisa bersyukur bahwa Allah telah menempatkan saya di posisi yang –menurut saya- relatif lebih beruntung dibandingkan bapak itu. Sebuah posisi yang –tentu saja- menuntut saya untuk lebih banyak bersyukur dan berbagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sementara itu di sudut yang lain, tampak dua anak sedang asyik bermain-main di bawah guyuran air hujan. Jika mengingat masa kecil saya, sepertinya keasyikan bermain air hujan adalah fitrah anak kecil. Dimana saja, yang namanya anak kecil pasti suka bermain air hujan. Saya teringat ketika kecil dulu pernah menunggu hujan yang tidak kunjung turun sampai jauh melewati batas akhir waktu mandi sore saya. Padahal langit gelap oleh mendung tebal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Melihat keceriaan kedua bocah itu, saya kembali diingatkan oleh keindahan dunia anak-anak. Tidak ada premis-premis awal yang membatasi gerak. Tidak ada prasangka-prasangka yang memburamkan pandangan. Lugu, polos, naif, dan tanpa beban. Saya hanya bisa berdoa semoga saya bisa menghadirkan sebuah dunia yang menjaga malaikat kecil saya tetap dalam fitrah sucinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Segala puji bagi Dzat Maha Bijaksana yang masih menghadirkan potret kehidupan yang bisa mengusik nalar dan sensitifitas saya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-5068314955799402966?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/5068314955799402966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=5068314955799402966' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/5068314955799402966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/5068314955799402966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/04/catatan-harian-14-apr-2010.html' title='Catatan Harian 14 Apr 2010'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-4084208840976745270</id><published>2010-04-14T02:48:00.000-07:00</published><updated>2010-04-14T02:59:23.592-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan Harian 12 Apr 2010</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Praktis sudah sebulan ini, saya berhenti dari kegiatan corat-coret yang mulai saya sukai. Menuangkan semua ide yang ada di kepala ke dalam bentuk tulisan. Mencari bahan pustaka dan menelusuri berbagai sumber rujukan dan referensi. Mencoba mengunyah segala permasalahan dan mencoba memahami nalar serta jalan pikiran orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Entah mengapa selama sebulan ini, semangat yang dulu sempat saya rasakan seakan menguap dan memudar entah kemana. Yang pasti, memang ada beberapa keadaan yang bisa dijadikan tersangka, yang membuat otak dan jari tangan mogok dalam waktu yang bersamaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pertama. Sejak sebulan yang lalu, kantor pusat menugaskan saya untuk menjaga warung di bilangan Simatupang, dimana posisi warung yang baru ini memaksa saya untuk berubah mode: dari seorang trainer (penumpang kereta) menjadi seonggok biker (pengendara motor jalanan). Walhasil, tidak ada waktu tambahan bagi saya selama perjalanan berkendara untuk sekadar membaca majalah, buku, atau koran sebagai suplier ide dan wacana. Atau sekadar melamun menatap pemandangan di luar untuk mencari inspirasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ada sebuah perkataan bijak yang sangat menarik, “jika seseorang tidak memiliki, bagaimana mungkin dia bisa memberi”. Dan inilah kondisi saya saat ini. Minim aktivitas membaca membuat saya termasuk kaum fakir ide. Dan ujung-ujungnya, hal inilah yang membuat saya tidak bisa lagi berbagi wacana dan tulisan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Obatnya hanya satu: mulai membaca lagi!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kedua. Penurunan semangat yang dibiarkan berkepanjangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam pelajaran fisika, kita disuguhkan oleh sebuah fenomena alam bernama kelembaman. Yaitu usaha sebuah benda untuk mempertahakan kondisi semula ketika terjadi perubahan gerak. Inilah yang menyebabkan kita terlonjak ke depan ketika mengerem kendaraan, dan membetot kita ke belakang ketika pedal gas diinjak penuh ke bawah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam perspektif psikologi manusia, saya percaya bahwa pada sebagian dari kita terdapat fenomena kelembaman ini. Yaitu kecenderungan untuk tetap mempertahankan kondisi semula walaupun situasi dan keadaan telah –atau harus-berubah. Sebagian menyebutnya “pro status quo”, ada juga yang menyebutnya “comfort zone”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dan di sinilah posisi saya sekarang –dan dulu pernah- berada. Kondisi “vakum dari kegiatan baca-tulis” yang berusaha mati-matian saya perangi, sekarang malah saya nikmati. Dan parahnya, saya enggan untuk beranjak dari sana. Parah pangkat duanya, saya sudah mulai terbiasa dengan prestasi nihil tulisan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pak Hernowo –penulis buku “Mengikat Makna Update- juga sempat menyentil hal ini. Beliau mengajukan sebuah resep –yang saat ini sedang saya coba-, yaitu dengan memaksa menulis apa saja. Bahkan jika kita tidak memiliki ide atau sesuatu untuk dituliskan, maka kondisi itu sendiri sudah layak untuk dijadikan bahan tulisan. Mengapa merasa buntu ketika akan menulis? Mengapa sampai kehabisan ide? Dan sebagainya, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Yang pasti, saya sudah mulai menggerakkan roda itu lagi. Butuh energi yang besar, memang; namun hal ini sudah wajib ‘ain hukumnya untuk segera dilakukan. Ada sebuah adagium yang sempat singgah sekelebat di kepala saya, “iman itu kadang naik kadang turun”. Dalam konteks kegiatan baca-tulis ini, semangat untuk baca-tulis kadang naik dan kadang pula turun. Apalagi bagi saya dimana kata “istiqamah” adalah sebuah barang yang mahal harganya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Meski jauh-jauh hari saya sudah menyadari bahwa saya mungkin saja akan tercebur lagi ke lembah hina –seperti sekarang ini- namun paling tidak saya sudah memiliki ajian pamungkas yang bisa saya rapalkan ketika kondisi buruk itu datang menerpa. Yah, paling tidak, jangan sampai zero productivity lah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ganbatte, dear me!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-4084208840976745270?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/4084208840976745270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=4084208840976745270' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/4084208840976745270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/4084208840976745270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/04/catatan-harian-19-apr-2010.html' title='Catatan Harian 12 Apr 2010'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-3305104881269535834</id><published>2010-03-07T19:11:00.000-08:00</published><updated>2010-03-07T19:12:25.293-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Catatan Harian 27 Feb 2010</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan agak was-was, saya memacu motor kesayangan menuju ke Stasiun Depok Lama. Jarum panjang arloji sudah terlalu lama melewati angka 12 pada putaran jam 9 pagi. Saya berlomba dengan KRL Ekonomi AC yang akan saya tunggangi menuju ke Manggarai. Dengan jadwal keberangkatan pukul 09:08, seharusnya saya sudah melambaikan sapu tangan putih, berucap sayonara pada rangkaian yang meninggalkan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah, saya masih tinggal di Indonesia. Keretanya masih tersedia...&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Dengan gaya anggun dan profesional saya acungkan dua jari tangan saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan. Ini bukan iklan Keluarga Berencana. Saya membeli 2 lembar tiket KRL Ekonomi AC dari petugas loket. Saya ambil nafas panjang dengan lega. Rupanya, Allah masih mengijinkan saya bepergian dengan nyaman di suasana pagi yang cerah dan agak menyengat itu. Sapaan dan jawaban ramah dari petugas peron menambah keyakinan dan rasa percaya diri saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kereta yang tujuan Tanah Abang di peron 3, Pak”, jawab sang petugas dengan senyumnya yang penuh pesona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berempat –saya bersama dengan permaisuri dan dua puteri mahkota-pun beringsut menuju ke peron 3 menunggu sang KRL datang. Suara sang announcer membahana memecah langit pagi Depok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“KRL Ekonomi AC seharusnya berangkat dari Depok Lama pukul 9 lewat 8 menit, saat ini keretanya berada di Stasiun Lenteng Agung menuju Depok”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Astaghfirullahal ‘adziim, ternyata saya memang masih tinggal di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lemas lunglai saya mendengar suara jujur sang announcer ini. Padahal hari ini adalah hari pertama saya muncul utuh di komunitas KRLMania. Penampilan perdana saya haruslah maksimal dan memukau, tidak boleh telat walau dua jam sekalipun. Saya lirik arloji saya. Kedua jarumnya semakin mendekati pukul 09:30, batas akhir dari waktu tunggu yang dijanjikan oleh Pak Rofiq, salah satu Jendral KRLMania. Saya semakin pasrah dengan keadaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin karena cuaca yang agak menyengat membuat permaisuri saya mendekati seorang pedagang asongan untuk melihat-lihat kipas plastik. Dan di saat Beliau sedang sibuk bertransaksi, datanglah sang juru selamat kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu rangkaian KRL berjalan dengan langkah gemulai dari Selatan. Diiringi dengan suara announcer yang menginformasikan bahwa rangkaian ini adalah KRL Eko Kambing tujuan Jakarta Kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya segera memanggil permaisuri saya dan mengajak untuk bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang ada. Namun, demi melihat sosok yang bergelantungan di sekujur pintu-pintu rangkaian, sempat terbetik rasa ragu. Apakah ini sosok rangkaian yang ditakdirkan untuk kami?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Detik demi detik berlalu, satu demi satu gerbong berlenggang di depan kami. Aha! Makhluk di perpintuan rangkaian ternyata hanya pemanis belaka. Di dalam gerbong rupanya masih cukup leluasa bahkan untuk konser keliling para pemusik gerbongan, apalagi kalau cuma buat tempat berpijak kami berempat. Ya, sudahlah saya ikhlaskan Rp. 8.000,- sebagai infak kepada operator KRL hari itu. Segera kami mendarat dengan mulus di gerbong kedelapan pintu ketiga kipas angin ke-... halah! Gak penting..!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untunglah permaisuri saya membeli kipas angin yang dilengkapi dengan “Green Technology”. Cukup dengan sedikit sentuhan, maka hembusan angin surga akan segera terasa. Namun hari itu, sepertinya bohlam matahari baru saja diganti. Sinarnya terang sekali, plus panas. Kipas angin surgawi ini tidak mampu menahan leleran keringat dari wajah buah hati saya. Dalam hati saya bergumam, “Syukurlah Nak, tidak tiap hari kau merasakan hal yang semacam ini”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah 30 menit lamanya melibas sirkuit kereta Depok – Manggarai, sampailah kami di peron jalur 5. Dengan sedikit harap-harap cemas saya mencoba menghubungi Pak Rofiq. Kami terlambat setengah jam dari jadwal rendezvouz, dan saya tidak berharap banyak. Panggilan saya berjawab, dan... Aha! Rupanya rombongan masih tertahan di sinyal masuk depan Ruang KS Manggarai. Sosok besar Mas Tommy yang berkaos merah menyala menjadi panduan saya mengenali posisi mereka. Cukup eye-catching walaupun jika kami terpisah puluhan petak dan lampu persinyalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera saya hampiri rombongan KRLMania yang masih setia menunggu di peron jalur 1. Dengan berdebar-debar saya mendekati kumpulan wajah-wajah yang belum begitu familiar. Saya mencari-cari sosok yang sudah saya hapalkan penampakannya dari laman Facebook malam tadi: Pak Rofiq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun ada sedikit noise yang masuk, namun software “Image Detection” versi terbaru yang terinstall di otak saya segera mengenali wajah tersebut. Dengan keramahan secukupnya, saya sapa Beliau. Jabat tangan yang erat segera berlanjut dengan perkenalan para tetua, kakek guru, paman guru serta tante guru komunitas KRLMania: Mbak Nda, Mas Tommy, Om Roses dan jagoan kecilnya Ozal, Bu Anna dan suaminya, dan the Great Pak eNCe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama kemudian datang pula seorang jagoan teplok bulu andalan KRLMania, Pak Noerachmad, yang menurut kabar gosip infotainment, Beliau datang dari Gondangdia. Lengkap sudah pasukan berani hidup KRLMania, siap bertempur meruntuhkan kedigdayaan peleton tempur BY Manggarai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjalanan panjangpun mulai ditempuh...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diiringi doa ala kadarnya dan logistik secukupnya, kami mulai melangkahkan kaki menuju medan perang. Gedung megah stadion Balai Yasa Traksi Manggarai sudah menunggu aksi para jagoan tangkis bulu KRLMania. Meskipun belum tahu lokasinya, sayapun berbaik sangka bahwa tempatnya hanyalah sepelemparan batu saja. Maka dengan pedenya, saya menampik tawaran luar biasa untuk naik mobil bersama menuju TKP. Sebuah tawaran yang kemudian sedikit saya ratapi penolakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepeminuman teh kemudian sampailah kami di tempat tujuan. Dua arena pertandingan dengan kapasitas puluhan tempat duduk eksklusif, yang sebagian besarnya bahkan masih terbungkus plastik elegan, tampak di depan mata. Di sana juga telah tersedia para pemain profesional BY Manggarai lengkap dengan mata nanar dan seringai garangnya. Para petarung KRLManiapun tak gentar menantang. Segeralah mereka berganti seragam dan mengeluarkan perlengkapan perangnya. Pemanasan yang indah dan jurus-jurus cantikpun diperagakan. Backhand, forehand, smash dan upper-cut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh cantik..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara para suporter segera menyiapkan diri di gelaran karpet terpal yang telah tersingkap dengan indah di sisi lapangan. Suplai logistikpun digelar dengan penuh percaya diri: rambutan, risoles, pastel dan semua teman-temannya, tak ketinggalan untuk unjuk kebolehan. Tak urung mata sayapun nanar melihat mereka. Namun sedikit faktor jaim menahan saya untuk bertindak brutal dan anarkis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pertunjukanpun dimulai...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shuttle-cock yang berhias bulu angsa mulai berterbangan, berpindah posisi dan koordinat, ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan, melambung dan meluncur cepat persis lokomotif yang sedang langsir dalam kecepatan tinggi. Peluhpun bercucuran, tubuh-tubuh yang limbung mulai berjatuhan. Teriakan penuh semangat dan kekecewaan membahana silih berganti. Emosi terkuras habis di sini. Sedangkan mulut sayapun ikut berpacu, komat-kamit mengunyahi rambutan dan pastel yang telah dijarah dan diobrak-abrik oleh sulung saya. Sungguh perjuangan yang berat...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beradu kesaktian selama beberapa puluh jurus lamanya, akhirnya tim KRLMania harus rela puas ikhlas legawa mengakui kehebatan tim BY Manggarai. Rupanya perjalanan jauh yang harus ditempuh sebelum mencapai Stadion BY Manggarai dan suhu arena yang sedikit hangat turut andil dalam menguras tenaga para pendekar KRLMania. Memang sedikit tercium aroma konspirasi dan konstipasi di sana sini, tapi sebagai anggota KRLMania yang baik hati dan tidak sombong, gemar menabung dan tidak suka corat-coret tembok; saya berusaha menepis semua pikiran dan energi negatif yang sempat merajai akal sehat saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arloji sudah menunjukkan pukul 12 siang dan anak-anakpun sudah mulai gelisah. Ini memang sudah melampaui jatah istirahat pagi mereka. Waktunya turun dari panggung pertunjukan. Setelah membersihkan niat dan meneguhkan hati, saya mengutarakan maksud hati saya dan mohon undur diri kepada kepala suku KRLMania. Beliau dan kepala suku BY Manggarai, Pak Haji Rusdi menahan kami sebentar untuk satu sesi foto bersama. Wah! Insting narsis saya langsung bereaksi. Apalagi ketika mendengar kalimat dahsyat berikutnya, “Ini sudah dipesankan makan siang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jreng!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haluan secara spontan bergerak memutar 540 derajat. Sesi foto-foto ini sudah seperti oase di padang pasir bagi saya. Kesejukannya bagaikan hujan sehari yang menghapus panas kemarau setahun, bagai embun pagi yang menyapu habis malam gerah tanpa hujan, bagai cabai rawit hijau dalam timbunan tahu bulat Ciamis. Maknyus!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera kedua kubu yang tadinya berseteru membaur dengan hangat. Mengatur posisi dan pose terbaik di depan kamera. Setelah dihujani sedikit kilatan blitz kamera dan sepatah dua ribu patah kata perpisahan dan pemberian cinderamata, akhirnya rombongan KRLManiapun pamit seutuhnya. Dengan sedikit arahan dari sang tuan rumah, tangan sayapun sigap cekatan memasukkan satu kotak makan siang yang tersaji sempurna ke dalam tas punggung saya. Dan...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Off we go. Let’s the journey begin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kecepatan maksimal dan pencurian start yang sempurna, kami berempat melaju lancar menuju Stasiun Manggarai. Namun ternyata, di depan kami masih ada satu rombongan yang tak kalah sigap meluncur ke tujuan yang sama. Dengan determinasi tinggi dan semangat pantang menyerah, tim Mbak Nda dan Mas Tommy inipun kami salip sempurna di tikungan depan masjid kompleks BY Manggarai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada seorangpun di depan kami. Bayangan trofi mewah dan kalungan bunga dan sayur-sayuran segar sebagai peserta yang finish pertama kali di Stasiun Manggarai segera membayang. Kami segera mempercepat langkah. Peron jalur 5 dan 6 sudah tampak di ufuk mata. Namun, sosok besar Mas Tommy di kejauhan membuyarkan lamunan. Lho, bukannya mereka sudah tertinggal jauh di sana? Ternyata, belakangan saya tahu bahwa mereka memanfaatkan teknologi canggih a la Indonesia: naik ojek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampainya di stasiun, kami langsung melesat ke loket memesan dua tiket ke Depok. Kata sang penjaga loket, kereta berikutnya adalah KRL Eko AC dengan ETD jam 12.30-an. Saya terpaksa menggunakan akhiran “-an” di sini mengingat pengalaman buruk saya tadi pagi. Jadi, meskipun sepuluh menit yang lalu arloji saya sudah melewati pukul 12.30, kami&amp;nbsp; masih melenggang kangkung membeli sebotol teh&amp;nbsp; rasa buah-buahan dan 3 butir jeruk sebagai teman di perjalanan. Tak diduga ketika kami hendak mendekati peron 6, satu rangkaian datang dengan gagah. Dan benarlah, inilah dia kereta kami. Tumben hanya telat 20 menit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjalanan kereta yang lancar hari itu membuat kami tidak berlama-lama di perjalanan. Singkat, jelas dan tidak padat. Empat puluh lima menit kemudian kami sudah berada di rumah dan beristirahat melepas lelah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh sebuah pengalaman yang singkat bersama komunitas baru saya, KRLMania. Meskipun tidak banyak kesempatan untuk mengobrol santai sambil lebih mengenal dekat dengan masing-masing personelnya, paling tidak kami sudah saling bertemu muka, berjabat tangan erat dan sedikit bertukar kabar. Saya berharap pertemuan awal ini adalah benih pertemanan yang tersemai yang nantinya akan tumbuh indah menjadi sebuah persaudaraan yang erat dan hangat di masa datang.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-3305104881269535834?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/3305104881269535834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=3305104881269535834' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/3305104881269535834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/3305104881269535834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/03/catatan-harian-27-feb-2010.html' title='Catatan Harian 27 Feb 2010'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-4789040049296359729</id><published>2010-02-17T19:06:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T19:06:23.324-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 16 Feb 10</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tidak ada yang spesial dari catatan saya kali ini. Hanya sebuah proses belajar untuk meng-upgrade dan meningkatkan potensi diri. By the way, saat ini saya sedang menikmati sebuah buku berjudul "Mengikat Makna Update", buah tangan Pak Hernowo. Menurut informasi dari buku tersebut, Pak Hernowo ini mencatatkan rekor 24 buku dalam 4 tahun. Dengan sedikit ilmu penerawangan a la Statistika, rata-rata 1 buku Beliau tulis dalam 2 bulan. Wow!! Oleh karenanya, dengan semangat untuk menjadi Kendy versi 2.0, saya coba tuangkan apa saja yang terlintas di otak kiri, kanan, depan, belakang, atas dan bawah saya dalam bentuk tulisan. Semoga bisa istiqamah!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah energi positif terkuras habis selama beberapa, akhirnya saya bisa menemukan kembali ritme hidup normal saya. Well, akhirnya saya memperoleh lagi kemewahan waktu untuk kembali mencorat-coret lembaran-lembaran digital dengan segala celotehan saya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Pagi ini saya kembali menjalani peran sebagai biker. Sebuah proses adaptasi yang –menurut saya- berat, terutama jika dibandingkan dengan kenikmatan menjalani kehidupan sebagai seorang roker. Apalagi jika mengingat bahwa peran ini akan saya jalani dalam kurun waktu yang belum berbatas. Saya tidak lagi memiliki waktu untuk menggali informasi dunia lewat hidangan koran pagi, mengamati berbagai macam tingkah polah anak manusia dan mengambil banyak hikmah darinya, atau bahkan sekadar melamun melihat pemandangan luar selama perjalanan kereta. Semua itu telah menjadi sebuah kemewahan bagi saya saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, pandangan saya harus awas mengamati keadaan di depan. Fokus mata harus sering diubah untuk meng-update data keadaan sekitar saya, informasi dari kamera kiri dan kanan saya (baca: spion) harus terus dipantau dan dievaluasi. Parahnya, spion kiri saya malah menghadap ke badan saya, yang tak urung merangsang syaraf-syaraf narsis untuk sesekali memandang ke arah tubuh aduhai yang terpampang di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What a distraction...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi hujan semakin memperberat kerja indera penglihatan saya, apalagi dengan kondisi saya yang berkacamata. Setiap tetes hujan yang datang menghampiri lensa kacamata akan menambah cembungan-cembungan yang mengacaukan perhitungan kornea saya. Seandainya ada Profesor Lang Ling Lung, si penemu yang bisa ditunggu, saya akan pesan sepasang wiper untuk kacamata saya. Sembari berharap semoga harganya juga di-cover oleh asuransi kantor saya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan saya juga tidak luput dari jatah kerja keras. Alhamdulillah, motor saya termasuk turunan dari teknologi motor tercanggih yang menghilangkan salah satu fungsi yang belum saya pahami hingga detik ini: kopling. Praktis hanya tangan kanan saya yang memegang kendali penuh atas rem dan putaran gas. Sebuah kombinasi kontrol yang mengayunkan hidup saya dari kiri ke kanan, dari gerakan dinamis ke kondisi diam yang statis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tidak semuanya berjalan mulus dan indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi jalan dan pengendara motor di Jakarta (dan sekitarnya) -yang bisa membuat Valentino Rossi dan Dani Pedrosa minder- memaksa saya untuk terus siaga dan waspada. Dua kata dari Bang Napi adalah kata kuncinya, “waspadalah.. waspadalah..”. Alhasil, jadilah saya layaknya seorang drummer. Telinga mendengarkan ritme dan melodi klakson, tangan saya bergerak dinamis mengalunkan stir motor ke arah yang benar. Dan kaki saya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oiya, kaki saya malah tegang sempurna setiap saat...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak juga sih. Minimal, mereka harus siap setiap saat otak saya memberi perintah untuk mengubah irama kendaraan saya. Layaknya pasukan PMK yang harus siap ketika panggilan darurat datang setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seringkali, saya merasa trainsick. Jika homesick adalah perasaan rindu pada rumah dan kampung halaman, maka trainsick ini adalah sindrom rindu pada KRL. Dalam diam, saya terpekur memandangi KRL Eko Kambing yang melenggang syahdu di jalurnya. Berdesir rasa iri di hati untuk ikut larut dalam rombongan kereta yang bergegas meninggalkan saya dengan langkahnya yang tegas dan pasti. Dentingan klakson membuyarkan lamunan saya menandakan bahwa kemacetan di depan saya telah terurai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekadar mengobati kerinduan, saya mencoba untuk tetap aktif di milis. Sesekali ikut meramaikan ruang diskusi maya di internet. Mencoba meraih kembali perasaan sebagai seorang penumpang KRL. Bahasa kerennya “get the feeling of being a trainer (penumpang kereta)”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, meskipun wajah KRL penuh dengan carut marut dan keruwetan operasionalnya. Saya sungguh rindu dengannya lengkap dengan keterlambatan jadwal perjalanannya, kerusakan sinyalnya, bahkan suara palang pintu perlintasannya.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-4789040049296359729?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/4789040049296359729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=4789040049296359729' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/4789040049296359729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/4789040049296359729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/02/belajar-mengikat-makna-catatan-harian_17.html' title='Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 16 Feb 10'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-4184368918679767202</id><published>2010-02-15T18:24:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T18:24:28.919-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 15 Jan 10</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tidak ada yang spesial dari catatan saya kali ini. Hanya sebuah proses belajar untuk meng-upgrade dan meningkatkan potensi diri. By the way, saat ini saya sedang menikmati sebuah buku berjudul "Mengikat Makna Update", buah tangan Pak Hernowo. Menurut informasi dari buku tersebut, Pak Hernowo ini mencatatkan rekor 24 buku dalam 4 tahun. Dengan sedikit ilmu penerawangan a la Statistika, rata-rata 1 buku Beliau tulis dalam 2 bulan. Wow!! Oleh karenanya, dengan semangat untuk menjadi Kendy versi 2.0, saya coba tuangkan apa saja yang terlintas di otak kiri, kanan, depan, belakang, atas dan bawah saya dalam bentuk tulisan. Semoga bisa istiqamah!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arloji sudah bergerak menuju jam 19.00 ketika saya tiba di Stasiun Dukuh Atas. Hari ini saya pulang malam karena mendapat giliran untuk melakukan weekly maintenance di kantor. Sebenarnya tugas-tugas sudah selesai sebelum Maghrib, dan saya masih bisa mengejar KRL Bojong Gede Ekspres (Bojes) dengan jadwal keberangkatan jam 18.42. Tapi mengingat sejarah kelam si Bojes yang selalu mengalami keterlambatan dan pembatalan perjalanan, saya akhirnya menjatuhkan pilihan pada Pakuan Ekspres jam 19.25.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Saat itu saya pulang bersama teman sekantor, sebut saja Beni, yang berdomisili di Bogor. Ketika kami berjalan menuju eskalator hendak berpindah dari Peron Jalur 1 menuju ke Peron Jalur 2, kami melihat salah seorang pedagang kaki lima kenalan Beni, sebut saja Kang Kasep. Akibat renovasi Stasiun Dukuh Atas, kami sudah beberapa pekan tidak melihat Kang Kasep karena stasiun harus disterilkan dari PKL yang biasa berdagang di kawasan tersebut. Saya senggol tangan Beni sambil menunjuk ke sosok Kang Kasep yang duduk berjongkok di pintu masuk stasiun. Agaknya Beni juga menyadari keberadaan kenalannya tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah saling bertegur sapa dan menanyakan kabar masing-masing, kami memutuskan untuk singgah sebentar disitu. Beni dan Kang Kasep kemudian larut dalam obrolan yang diselingi dengan kepulan asap rokok, sementara saya berperan menjadi pendengar setia dari obrolan yang disiarkan dalam bahasa planet Sunda, yang tidak semuanya saya mengerti. Dan singkat cerita, akhirnya Beni berpamitan kepada Kang Kasep dan mengajak saya untuk duduk sejenak di luar stasiun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata selama beberapa minggu tidak terlihat di Stasiun Dukuh Atas, Kang Kasep memilih untuk pulang kampung dalam keadaan... menganggur. Kedatangannya ke Stasiun Dukuh Atas hari itu karena dia mendapat kabar dari temannya sesama PKL bahwa akan ada peresmian stasiun yang disertai dengan penjelasan akan nasib para PKL yang sebelumnya pernah berdagang di situ. Tentu saja harapan Kang Kasep bertepuk sebelah tangan melihat kondisi Stasiun Dukuh Atas yang terlihat normal seperti hari-hari biasanya. Tidak ada spanduk meriah, tidak ada umbul-umbul megah, tidak ada karpet merah yang mewah. Dan tentu saja tidak ada pejabat yang meresmikan apapun disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak tahu apa saja yang diobrolkan oleh Beni dan Kang Kasep, namun pembicaraan yang diselingi oleh Bahasa Indon itu, saya tahu bahwa Kang Kasep berusaha mempromosikan keahliannya sebagai tukang batu. Sembari menanti kabar baik dibukanya kembali tempat usahanya di Stasiun Dukuh Atas. Tentu saja saya miris mendengarnya. Ditambah dengan kabar bahwa istri Kang Kasep juga sedang mengandung seorang jabang bayi buah cinta mereka berdua. Tidak ada yang memerihkan hati saya waktu itu selain memikirkan betapa kalutnya pikiran pasangan muda itu menanti jabang bayi amanah dari Yang Maha Pengasih tanpa ada kepastian penghasilan sebagai pengepul asap dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya hanya membisu menatap sosok calon ayah yang duduk berjongkok diam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang sanggup saya berikan untuk sekadar meringankan bebannya, melainkan hanya selarik empati dan sekilas waktu yang saya habiskan untuk ikut sedikit memikirkan nasibnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun akal ini juga buntu..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya membayangkan diri saya sendiri, dan berpikir betapa Allah telah memudahkan hidup saya, memuluskan perjalanan nasib saya dengan begitu banyak kemudahan. Namun bagi orang-orang seperti Kang Kasep, hidup adalah perjuangan dalam suasana penuh keprihatinan, kegagalan, dan kekecewaan. Saya sungguh yakin bahwa Allah Maha Adil, namun di hadapan kesempurnaan-Nya, saya berteriak mengutuki ketidakberdayaan saya. Betapa tidak sedikitpun tangan ini tergerak untuk cekatan membantu, menolong, memberdayakan orang-orang semacam Kang Kasep ini. Betapa diri yang terbelenggu oleh&amp;nbsp; perasaan “masih kurang cukup materi untuk memberi” terasa berat untuk sekadar berbagi semampunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya hanya ber-istighfar memohon perkenan Dzat Yang Maha Perkasa untuk sekedar merendam diri dalam samudera ampunan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, saya jadi melankolis malam itu...&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-4184368918679767202?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/4184368918679767202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=4184368918679767202' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/4184368918679767202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/4184368918679767202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/02/belajar-mengikat-makna-catatan-harian.html' title='Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 15 Jan 10'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-238753817699709450</id><published>2010-01-22T00:59:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T00:59:30.478-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 18 Jan 10</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tidak ada yang spesial dari catatan saya kali ini. Hanya sebuah proses belajar untuk meng-upgrade dan meningkatkan potensi diri. By the way, saat ini saya sedang menikmati sebuah buku berjudul "Mengikat Makna Update", buah tangan Pak Hernowo. Menurut informasi dari buku tersebut, Pak Hernowo ini mencatatkan rekor 24 buku dalam 4 tahun. Dengan sedikit ilmu penerawangan a la Statistika, rata-rata 1 buku Beliau tulis dalam 2 bulan. Wow!! Oleh karenanya, dengan semangat untuk menjadi Kendy versi 2.0, saya coba tuangkan apa saja yang terlintas di otak kiri, kanan, depan, belakang, atas dan bawah saya dalam bentuk tulisan. Semoga bisa istiqamah!! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ada perubahan penugasan kantor, hari ini saya mencoba jadwal keberangkatan baru dengan KRL. Biasanya, saya naik KRL Depok Ekspres dari ujung ke ujung, Depok Lama ke Dukuh Atas; sekarang saya mencoba destinasi baru: Tanjung Barat. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Tidak ada pilihan lain kecuali KRL Ekonomi, baik AC maupun non-AC, karena tidak ada KRL ekspres yang melayani rute Depok Lama – Tanjung Barat. Jadi meskipun jaraknya lebih dekat dengan rumah saya dibandingkan kantor yang berada di bilangan Sidirman, agak sulit bagi saya untuk mengatakan apakah lokasi kerja yang baru ini lebih mudah diakses atau tidak. Semua moda transportasi menawarkan benefit yang relatif sama, baik transportasi publik (KRL dan non-KRL) maupun privat (motor).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi itu, dengan niat suci untuk datang tepat waktu di kantor klien, saya sudah berada di Stasiun Depok Lama pukul 06.20. Dibandingkan dengan rutinitas tiap hari yang sering ngos-ngosan ketika mengejar KRL Ekspres jam 07.46, ini sudah luar biasa bagi saya. Saya sudah agak pesimis karena sebenarnya, kereta yang saya incar adalah Ekonomi AC dengan jadwal 06.15. Untungnya (atau celakanya ?), KRL telat seperti biasa. Dia datang ketika jarum jam menunjukkan pukul 06.35. Tapi..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Announcer stasiun dengan jelas mengumumkan bahwa yang datang dari arah Selatan adalah KRL Ekonomi AC. Tapi yang saya lihat adalah KRL dengan manusia yang sudah bergelantungan di pintu-pintu samping bahkan naik hingga ke lantai 2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What the...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, masih ada yang jadwal 06.43, pikir saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sama saja. Dua-duanya sudah penuh sejak dari Selatan. Singkat kata, akhirnya saya naik KRL Ekonomi AC yang berangkat dari Depok Lama pukul 07.25. Dan setelah menikmati perjalanan selama 30 menit seperti sarden dalam kaleng –karena saking penuhnya kereta-, tiba juga saya di Stasiun Tanjung Barat. Beruntung hari ini saya hanya melakukan transfer pekerjaan dengan rekan sekantor sehingga keterlambatan saya tidak begitu bermasalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorenya, saya berniat untuk naik KRL Ekonomi lagi (tidak ada pilihan lain..) dari Stasiun Tanjung Barat. Dan ketika KRL tiba pada pukul 17.25, saya sudah pesimis. Lantai 2 sudah penuh. Lantai 1? Jangan tanya. Tapi saya ikuti saja rangkaian hingga berhenti sempurna. Gerombolan manusia yang bergantungan di pintu mulai terkuak, beberapa orang berjuang menerobos keluar, dan yang di luar berjuang menerobos masuk. Saya -yang belum pernah sekalipun berjuang untuk sekadar menapakkan kaki di lantai KRL- memilih untuk mundur. It’s not my turn yet. Saya akan coba peruntungan saya di KRL berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arloji saya sudah menunjukkan pukul 17.55 ketika KRL Ekonomi berikutnya tiba di Tanjung Barat. Same condition, pikir saya. Tapi saya sudah bergerak mencari posisi dimana saingan untuk naik KRL lebih sedikit. Sama seperti sebelumnya. Beberapa orang menerobos keluar, dan yang di luar bergegas menerjang masuk. Alhamdulillah, kedua kaki saya sudah menapak di lantai KRL, dan dua tangan saya sudah mendapat pegangan yang mantap di bagian atas pintu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, saya sekarang berperan sebagai pagar hidup bagi manusia yang ada di dalam gerbong. Tanpa peran pengganti, dengan tas punggung dengan beban 6 kiloan tergantung di salah satu lengan, saya menjalani adegan yang telah digariskan oleh Sang Sutradara. Angin sepoi-sepoi dan cuaca sejuk yang dihiasi awan mendung di cakrawala ditingkahi oleh ranting pohon dan dedaunan yang menerpa wajah saya. Ini bukan perjalanan wisata nostalgia dengan kereta tua. Saya bersama puluhan orang lainnya sedang bertaruh nyawa di pintu KRL Ekonomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kereta baru saja berjalan beberapa saat, tangan kanan saya sudah mulai mati rasa. Desakan dari arah dalam gerbong membuat semua urat di kedua tangan saya menegang sempurna. Tidak ada jeda. Jika saya memutuskan beristirahat barang sejenak, tidak hanya rerumputan di bawah sana yang akan menerima saya dengan senang hati. Bebatuan pengganjal rel keretapun akan mencabik-cabik tubuh saya dengan riang gembira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh, saya teringat wajah tiga bidadari saya di rumah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah, Stasiun Lenteng Agung sudah tampak di mata. Cukup sudah. Ini bukan perjalanan untuk memacu adrenalin semata. Saya turun kereta dengan lunglai. Perjalanan beberapa menit ini sudah cukup menguras emosi dan fisik saya. Sayup-sayup terdengar suara shalawat dari Musholla stasiun. Sudah mau masuk Maghrib, rupanya. Saya termenung agak lama di teras Musholla memikirkan apa yang baru saja saya alami. Ah, lebih baik saya shalat dulu biar agak tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbarengan dengan akhir shalat Maghrib saya, tampak dari luar, KRL Ekonomi AC sedang berhenti menurunkan penumpang. Ya, sudah. Saya putuskan untuk naik KRL Ekonomi AC saja. Mungkin di sana kondisinya masih agak manusiawi. Bergegas saya menuju ke loket. “Jam 7, Mas”, jawab petugas loket ketika saya tanya mengenai jadwal KRL Ekonomi AC berikutnya. Saya lirik arloji saya, ternyata sudah jam 6.40. Sempurna! Sebentar lagi dia datang. Tetapi setelah saya membeli tiket dan berdiri menunggu di peron, saya teringat sesuatu. Ini Indonesia, Bung. Anda jangan berharap ketepatan jadwal kereta hingga level menit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pun melemas ketika mendengar announcer stasiun mengabarkan bahwa kereta yang saya tunggu masih di Manggarai.Ya, sudahlah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat menunggu, datang satu rangkaian KRL Ekonomi. Sebenarnya, saya masih ragu-ragu apakah saya akan naik KRL ini atau menunggu Ekonomi AC yang masih terpisah beberapa puluh menit lamanya. Demi melihat banyaknya penumpang yang keluar, refleks saya langsung bekerja. Saya langsung mendorong tubuh saya masuk ke dalam. Alhamdulillah, saya berada di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu kecil dulu, saya sering melihat film-film berlatar perang kemerdekaan, baik masa pra- maupun pascaproklamasi. Salah satu yang saya ingat berjudul “Kereta Terakhir” (CMIIW) yang menggambarkan pergeseran para prajurit TNI di medan pertempuran dengan menggunakan kereta api. Dan saya mengalami de ja vu ketika melihat kondisi di dalam gerbong KRL. Suasana pengap, gelap, dan berjejalan dengan sesama penumpang membuat saya teringat dengan suasana kereta zaman perang kemerdekaan yang saya tonton bertahun-tahun yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman beberapa menit bergelantungan di pintu KRL membuat saya memahami betapa berbahayanya berperan menjadi pintu di KRL Ekonomi, apalagi di jam-jam sibuk seperti sekarang ini. Bisa dibayangkan betapa berat gaya dorong dari dalam gerbong sebagai akumulasi puluhan manusia yang terpuntir tiap kali kereta berjalan di tikungan. Apalagi dalam kondisi gerimis dimana semua yang tersentuh air memiliki koefisien gesek mendekati nol, yang dalam bahasa normal berarti tambah licin. Tidak ada tombol “Pause” disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah riuh rendah dan sedu sedan manusia yang terhimpit sempurna di dalam gerbong, sayup-sayup terdengar tangisan bocah. Batin saya teriris membayangkan bagaimana repotnya sang orang tua menenangkan buah hatinya. Dalam kondisi serbatidak mengenakkan, tidak ada pilihan bagi penumpang kereta kelas kambing ini. Bahkan saya pikir kambing mungkin akan mendapat perlakuan lebih baik jika mereka diantar bepergian, minimal keselamatan mereka masih dipikirkan oleh induk semangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kondisi berjejalan, saya bahkan tidak bisa memonitor ada dimana tangan saya, tubuh saya disenggol siapa. Dan tas saya? Wallahu a’lam. Lupakan tentang pelecehan seksual. Karena dalam kondisi kerapatan massa yang sangat padat, Anda bahkan tidak akan bisa memaksakan ke arah mana tangan akan Anda arahkan, koordinat mana yang harus dihindari, siapa-siapa saja yang boleh disentuh atau dihindari. Saya sungguh bersimpati kepada kaum hawa yang -dalam kondisi sedemikian- harus rela aurat dan kehormatannya diacak-acak oleh keadaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampainya di Stasiun Depok Lama, saya masih saja termenung mengingat-ingat pelajaran yang saya dapat hari ini. Di stasiun ini, saya mendapati banyak pelajaran kehidupan yang luar biasa. Tentang bagaimana anak manusia bergulat dengan kehidupan di bibir jurang kematian. Sebuah potret dan ilustrasi yang sering saya temui ketika media bersuara mengenai KRL Jabodetabek. Namun gambar dan kata yang biasanya saya acuhkan telah berubah menjadi goresan yang sangat membekas ketika saya mengalaminya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Titik air mata saya hampir saja tumpah ketika menuangkan pengalaman tersebut dalam tulisan ini. Sekali lagi saya sungguh merasa beruntung bisa merasakan kemewahan kereta ekspres –dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Lupakan saja pembahasan tentang seli (sepeda lipat) dan kuli (kursi lipat) di kereta ekspres. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Since it don’t cost you your very life...&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-238753817699709450?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/238753817699709450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=238753817699709450' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/238753817699709450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/238753817699709450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/01/belajar-mengikat-makna-catatan-harian_22.html' title='Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 18 Jan 10'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-701573108075359697</id><published>2010-01-12T18:43:00.000-08:00</published><updated>2010-01-14T09:26:22.570-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='global warming'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hoax'/><title type='text'>Is Man-Made Global Warming a Hoax (Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;“Lies, damn lies, and statistics” – Benjamin Disraeli&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
Hari-hari ini, isu lingkungan adalah isu yang paling hangat, seksi dan paling mendominasi dalam setiap forum pembicaraan, mulai dari forum gosip Ibu-Ibu rumah tangga hingga mailing list Bapak-Bapak pekerja kantoran, mulai dari obrolan ringan para tukang ojek hingga diskusi serius para pemimpin negara-negara sedunia. Maka dalam rangka memeriahkan hajatan Konferensi Perubahan Iklim di Copenhagen, saya membuat tulisan tentang global warming secara berseri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika sebagian besar penduduk dunia sudah mulai terkondisikan dengan tema besar pemanasan global, ternyata penyikapan kaum cendekiawannya masih terbelah menjadi dua kubu yang berseberangan secara diametral. Kubu pertama, tentu saja, adalah para pendukung teori yang menyatakan bahwa pemanasan global yang drastis dewasa ini dipicu oleh aktivitas manusia (anthropogenic global warming / AGW). Inilah kubu arus utama yang pendapat ilmiahnya dijadikan sebagai landasan dan acuan bagi terbitnya berbagai macam protokol mengenai perubahan iklim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
Sedangkan kubu seberang adalah kelompok ilmuwan yang mempertanyakan validitas data dan metodologi penelitian dari kelompok pertama. Mereka adalah para ilmuwan skeptis yang tidak begitu saja menerima pendapat atau teori baru yang –mereka anggap- belum melewati batu ujian yang komprehensif dan adil. Sebagai kaum ilmiah terpelajar, pendapat mereka tentu saja tidak asbun. Mereka juga memiliki banyak data yang dikompilasi dari berbagai penjuru mata angin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas, bagaimanakah jalannya pertempuran para pendekar dalam dunia ilmiah dan ilmu pengetahuan alam ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Michael Mann dan The Hockey Stick&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada assessment report yang dikeluarkannya pada tahun 1990, IPCC mempublikasikan temuan saintifik yang menyatakan bahwa ternyata temperatur bumi pernah mengalami fluktuasi negatif bahkan positif melebihi apa yang terjadi pada satu abad terakhir ini. Terkait hal ini, ada dua momen yang diabadikan dengan istilah “Medieval Warm Period” (MWP) dan “Little Ice Age” (LIA) yang menandai peristiwa penaikan dan penurunan suhu rata-rata bumi. [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S00zK5MnT3I/AAAAAAAAACM/F9q39R6h2zo/s1600-h/earth-temperature.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S00zK5MnT3I/AAAAAAAAACM/F9q39R6h2zo/s320/earth-temperature.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
Namun pada assessment report-nya yang keluar pada tahun 2001, IPCC merevisi ‘pendapatnya’ seraya mengamini temuan terbaru yang mengeliminasi adanya MWP dan LIA sebagai sebuah fenomena global.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah Dr. Michael Mann, seorang profesor di Pennsylvania State University, beserta koleganya yang telah berhasil mengubah haluan IPCC tersebut. Lewat paper-nya (MBH98), Dr. Mann menunjukkan bahwa sejak tahun 1000 M hingga masa praindustri, suhu rata-rata bumi relatif menunjukkan tren negatif atau mengalami penurunan, untuk kemudian naik tajam secara drastis pada awal abad 20. Grafik tersebut yang menggambarkan tren rata-rata suhu bumi tersebut, kemudian, lebih dikenal dengan “The Hockey Stick”, merujuk pada wujud grafik yang mirip dengan tongkat hoki.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S00zP0QauuI/AAAAAAAAACU/rUm0IepmFYg/s1600-h/mann-hockey-stick.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S00zP0QauuI/AAAAAAAAACU/rUm0IepmFYg/s320/mann-hockey-stick.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
Dengan berbekal kombinasi data multi-proxy dari tree ring, ice core, dokumentasi historis serta koral laut; Dr. Mann menafikan keberadaan fenomena MWP dan LIA sebagai sebuah even global. Dan kalaupun ada, mereka hanya terbatas pada belahan bumi bagian utara (Northern Hemisphere) saja. [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kontroversi The Hockey Stick&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 2003, Stephen McIntyre dan Ross McKitrick menerbitkan sebuah paper (MM03), dimuat di Jurnal “Energy and Environment”, yang mengoreksi MBH98. MM03 mengklaim telah menemukan beberapa kesalahan fundamental dalam MBH98, yang karenanya MBH98 dianggap sebagai “an artefact of poor data handling, obsolete data and incorrect calculation of principal components.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu hal yang disoroti adalah masalah data yang digunakan. Dalam beberapa set data yang digunakan MBH98 ditemukan nilai sama hingga 7 angka desimal. Misalnya pada data tree ring dari zona Texas – Mexico (sebanyak 9 data set) memiliki nilai 0,02303040 untuk tahun 1980. Atau data yang diambil dari ITRDB (International Tree Ring Data Base, sebanyak 7 data set) memiliki nilai 0,04345260 untuk tahun 1980.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MM03 juga mempertanyakan adanya angka hasil fabrikasi (diduga didapat dari proses ekstrapolasi, interpolasi, atau hanya copy+paste dari data lain) pada beberapa data set, yang jika di-cross check dengan data sumbernya, tidak ada. Penggunaan data usang juga dipertanyakan oleh MM03, padahal sebelum penulisan MBH98, data yang terbaru –dan memiliki jangkauan waktu lebih panjang- sudah tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbekal data yang tersedia, baik online maupun yang disuplai oleh Dr. Mann, MM03 mengklaim telah berhasil merekonstruksi MBH98 dengan hasil yang berbeda. Dari hasil rekonstruksi ini, MM03 tidak melihat adanya anomali pada perubahan suhu rata-rata bumi pada satu abad terakhir, sebagaimana yang disimpulkan oleh MBH98. [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McIntyre dan McKitrick (MM) bukanlah satu-satunya yang mengkritik MBH98. John L. Daly, seorang guru di Australia, [4] juga melontarkan kritik, terutama pada kesimpulan MBH98 yang menganggap bahwa MWP dan LIA hanyalah sebuah fenomena regional. Dalam tulisannya yang berjudul “The ‘Hockey Stick’: A New Low in Climate Science”, dia menunjukkan rekonstruksi temperatur bumi yang berbasiskan atas data proxy yang dikumpulkan, tidak saja dari belahan bumi sebelah Utara, namun juga dari Selatan. [1]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejujuran –seharusnyalah- menjadi atribut utama para ilmuwan karena peradaban dan nasib umat manusia berada dalam bimbingan tangannya. Kita tidak bisa membayangkan jika ilmuwan mulai dicemari oleh keinginan akan popularitas dan kontrol atas opini dunia. Skandal yang banyak mewarnai dunia ilmu pengetahuan, seperti halnya skandal tentang penemuan fosil manusia Piltdown, [5] seharusnya menyadarkan kita bahwa dunia ilmiah tidaklah netral dan sepi dari keinginan-keinginan semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdebatan antara kedua kubu, pendukung AGW dan para penentangnya, masih terus berlanjut sampai hari ini dan titik temu belum juga terlihat. Dalam dunia ilmiah, perdebatan dan adu argumentasi adalah hal yang wajar sejauh dilandasi semangat mencari kebenaran dan kemaslahatan bersama umat manusia. Namun sayangnya, kelompok arus utama terindikasi menjadikan alam ilmiah ini menjadi arena politis. Skandal “Climategate” yang dibuka oleh peristiwa peretasan (cracking) terhadap sistem komputer Climatic Research Unit (CRU) yang berada di University of East Anglia mengindikasikan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rentetan peristiwa seputar “Climategate” ini bisa dicari di internet, namun saya akan coba bahas di serial mendatang. Berikutnya, saya akan coba kompilasikan pembahasan seputar kontroversi karbon -yang telah didudukkan di kursi tersangka- sebagai agen penyebab perubahan iklim bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stay tuned..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Catatan Kaki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
[1] John L. Daly, “The ‘Hockey Stick’: A New Low in Climate Science”, &lt;a href="http://www.john-daly.com/hockey/hockey.htm"&gt;http://www.john-daly.com/hockey/hockey.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
[2] IPCC Assessment Report 2001: Working Group 1, &lt;a href="http://www.grida.no/climate/ipcc_tar/wg1/index.htm"&gt;http://www.grida.no/climate/ipcc_tar/wg1/index.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
[3] Stephen McIntyre, Ross McKitrick, “Correction to the Mann et. Al. (1998) Proxy Data Base and Northern Hemispheric Average Temperatures Series”, Jurnal Energy &amp;amp; Environment, Vol. 14, 2003. Tersedia di &lt;a href="http://climateaudit.files.wordpress.com/2005/09/mcintyre.mckitrick.2003.pdf"&gt;http://climateaudit.files.wordpress.com/2005/09/mcintyre.mckitrick.2003.pdf&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
[4] Wikipedia.Org, John Lawrence Daly, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Lawrence_Daly"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/John_Lawrence_Daly&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
[5] Wikipedia.Org, Piltdown Man, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Piltdown_Man"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Piltdown_Man&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PS: Mohon maaf jika terbitnya seri kedua ini butuh waktu yang agak lama. Selain tertunda oleh cuti akhir tahun, banyaknya makalah yang harus saya baca untuk sedikit memahami duduk persoalannya-lah yang mengharuskan saya berhenti agak lama untuk membaca dan menelaah tulisan mengenai sesuatu yang sama sekali tidak saya pahami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-701573108075359697?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/701573108075359697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=701573108075359697' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/701573108075359697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/701573108075359697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/01/is-man-made-global-warming-hoax-bagian.html' title='Is Man-Made Global Warming a Hoax (Bagian 2)'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/S00zK5MnT3I/AAAAAAAAACM/F9q39R6h2zo/s72-c/earth-temperature.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-6692865826108919520</id><published>2010-01-06T12:35:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T00:02:11.658-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 06 Jan 10</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Tidak ada yang spesial dari catatan saya kali ini. Hanya sebuah proses belajar untuk meng-upgrade dan meningkatkan potensi diri. By the way, saat ini saya sedang menikmati sebuah buku berjudul "Mengikat Makna Update", buah tangan Pak Hernowo. Menurut informasi dari buku tersebut, Pak Hernowo ini mencatatkan rekor 24 buku dalam 4 tahun. Dengan sedikit ilmu penerawangan a la Statistika, rata-rata 1 buku Beliau tulis dalam 2 bulan. Wow!! Oleh karenanya, dengan semangat untuk menjadi Kendy versi 2.0, saya coba tuangkan apa saja yang terlintas di otak kiri, kanan, depan, belakang, atas dan bawah saya dalam bentuk tulisan. Semoga bisa istiqamah!! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Pagi ini, saya berangkat seperti biasa. Naik kereta Depok Ekspres dengan jadwal &lt;strike&gt;penerbangan&lt;/strike&gt; keberangkatan pukul 07.46. Dan seperti biasa, kereta terlambat. Kalau kata Iwan Fals, “Dua jam itu biasa”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Ketika sudah menempatkan diri di gerbong paling depan sambil menikmati hidangan berita a la Media Indonesia, sekelompok pengamen muda tampak menunjukkan kepiawaian mereka menghibur para penumpang. Jujur saya akui, beberapa kelompok pengamen di KRL memiliki kelebihan performa dibandingkan rata-rata pengamen angkot atau bus kota. Sekali waktu saya bahkan pernah memberi IDR 5.000 sebagai bentuk apresiasi saya atas penampilan mereka. Jangan ditanya tentang keikhlasan saya. Waktu itu, kadarnya diatas rata-rata lho. Hehe... :p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Tapi fokus saya pagi ini bukan di situ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Kereta saya sudah siap akan berangkat di tengah-tengah penampilan para pengamen tersebut. Bahkan pintu samping kereta sudah mulai ditutup oleh masinis kereta. Dengan terburu-buru, beberapa kru pengamen langsung keluar gerbong, satu orang menahan pintu di dekat posisi saya berdiri, sedangkan satu orang –vokalisnya, seorang perempuan- masih berkeliling untuk mengumpulkan uang saweran dari para penumpang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Kereta sudah mulai berjalan, dan sang gadis masih belum menyelesaikan tugasnya. Temannya yang lain sudah mulai berteriak-teriak menyuruhnya untuk segera melompat turun. Beberapa penumpang sudah mulai panik melihat adegan ini mengingat akselerasi KRL sangat cepat. Bisa dibayangkan, dari keadaan diam, KRL bisa melaju dengan cepat hanya dalam beberapa detik saja. Dan benar saja, sang gadis jatuh terjengkang ketika kakinya mendarat di platform stasiun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Saya tidak tahu apakah si gadis terluka atau ‘hanya shock’ saja, namun dalam hati saya bersyukur. Gerbong pertama hanya berjarak beberapa meter saja dari batas platform stasiun. Terlambat sedikit saja, gadis tersebut bukan hanya jatuh dari kecepatan yang lebih tinggi, namun juga plus ketinggian lebih dari 1 meter dari atas permukaan tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Demi uang yang –mungkin- dalam ukuran saya tidak seberapa, mereka harus bertaruh nyawa seperti ini. Dibandingkan dengan saya yang kondisi kerjanya lebih aman dan nyaman, kehidupan mereka tentu saja jauh lebih keras. “What a hard life you have, guys. And if I don’t thank God for what I currently have, I’m just another ungrateful bastard”, gumam saya dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Tentu saja dalam bahasa Indonesia... :) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;KRL terus melaju ke perhentian (atau pemberhentian ya?) berikutnya: Pondok Cina. Sedikit intermezzo, saya selalu merasa risih ketika pembaca berita Metro TV selalu melafalkan kata Cina ini dengan “Caina”. Saya tidak tahu apakah ada aturan baru pelafalan yang semacam itu, atau mereka hanya sok ng-Inggris saja. Yang pasti menurut saya, ini cara pelafalan yang paling buruk. Jika mereka ingin meninggalkan stigma negatif kata “Cina”, saya pikir cara Jawa Pos lebih elegan: ganti dengan Tiongkok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Oke, kembali ke kisah saya. Sampailah kami di Pondok Cina. Dan seperti hari-hari biasa, ada banyak penumpang yang naik dari Stasiun Pondok Cina. Di antaranya, dua orang wanita –salah satunya setengah baya- dan seorang anak perempuan kira-kira berusia 2 sampai 3 tahun. Duh, saya jadi ingat Farras -anak saya. Berhubung sayapun dalam kondisi berdiri, tidak ada tempat duduk yang bisa saya tawarkan. Dan yang membuat saya jengkel, sangat sangat jengkel, adalah dua orang laki-laki yang duduk tepat di depan mereka –dua wanita dan anak perempuan- berdiri langsung pura-pura tidur. Salah satunya malah tidur terus sampai saya turun di Stasiun Sudirman (Dukuh Atas).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Alhamdulillah ada seorang wanita yang berbaik hati memberikan tempat duduknya. Sambil menggelengkan kepala, wanita tersebut memandangi kelakuan dua orang laki-laki yang egois ini. Mungkin wanita ini juga berpikiran sama dengan saya. Hanya banci yang berkelakuan semacam ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Ketika wanita setengah baya itu dan gadis kecilnya duduk, salah satu dari dua laki-laki egois ini membuka matanya. Dengan tanpa rasa malu atau bersalah, dia meneruskan kegiatannya dengan BlackBerry di tangannya. Sebenarnya, kalau diperhatikan lebih seksama, laki-laki ini bukan seseorang yang tidak berpendidikan. BlackBerry dan tas laptop (dan yang pasti isinya laptop, bukan upil) adalah bukti bahwa dia ini melek teknologi. Jadi, pendidikan dan teknologi tinggi ternyata tidak serta merta membuat seseorang menjadi lebih beradab. Ini memang hipotesis prematur dari saya, namun saya akan sangat senang jika ada yang membuktikan bahwa anggapan saya ini salah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Ya sudahlah. Saya juga masih terlalu pengecut untuk memperjuangkan hak-hak dua wanita tersebut, meskipun himbauan untuk memprioritaskan tempat duduk bagi wanita hamil, wanita yang membawa anak kecil serta orang tua jelas tertempel di dinding KRL. Paling tidak, dengan tulisan ini, saya ingin menyampaikan kepada dunia apa yang saya pikirkan dan rasakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Oke... Lanjut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Siangnya, saya –yang sejak beberapa hari yang lalu bertekad bulat untuk ikut mencicipi akses internet 3G- bergegas menuju Galeri Indosat di Sarinah. Setelah menunggu sekitar 15 menit dengan nomor antrian 141 (penting gak sih?), disambut dengan hangat oleh Mbak CS di Meja nomer 1. Yuhuuuu.... Akhirnya..... Setelah berusaha setengah hidup menyusun kata-kata untuk mengutarakan maksud hati dan niat baik saya kepada si Mbak, ternyata jawaban Beliau sangat menggelisahkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Maaf, Pak. Pendaftaran untuk akses internet broadband sudah ditutup sejak 31 Desember”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Aduh.. Saya pikir saya sudah akan membuang sia-sia IDR 7.000 (ongkos BusWay Bendungan Hilir – Sarinah PP) dari kekayaan saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Tapi Bapak masih bisa berlangganan akses internet di IM2 di lantai dua”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Ahaaa... Masih ada secercah cahaya di ujung lorong. Saya segera menuju sekuriti untuk meminta nomor antrian untuk IM2. Saya diberi nomor 336. Wah, nomor cantik nih (nomor cantik dari Hongkong?). Hanya butuh waktu beberapa saat sebelum Mas CS di meja nomor 10 available. Singkat kata, saya berniat untuk berlangganan Paket Eco Unlimited dengan bandrol IDR 176.000 per bulan (sudah termasuk pajak lho, jadi saya termasuk warganegara yang baik kan...). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Ketika saya sedang mengisi formulir pendaftaran, Mas-nya bertanya, “Modemnya beli dimana Pak?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Waktu itu, saya juga langsung menunjukkan modem ZTE MF626 yang baru saya beli. Bukan untuk pamer ke Mas-nya sih, saya ingin sekalian dibantu untuk setting modem dan kartu GSM-nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Saya beli di JakartaNotebook, Mas”, jawab saya sambil terus mengisi formulir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Saya aja yang kerja disini belum punya modem, Pak”, kata sang Mas CS.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Ah, masak sih. Mas-nya jualan bandwidth kok gak punya modem”, jawab saya tidak percaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Jelas saya tidak percaya. Parfum Mas-nya saja masih semerbak mewangi, padahal sudah tengah hari. Dibandingkan dengan parfum kelas kambing yang biasa saya beli di Indomaret atau Alfamart, yang 5 menit setelah disemprot wanginya sudah hilang; jelas kelas parfum Mas CS jauh di atas saya. Haha :D&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Setelah beberapa saat mengisi formulir pendaftaran, saya sampai di kolom isian “Kode Pos” sesuai KTP. Saat ini berdasarkan KTP, saya tercatat sebagai warga Jalan Bangka 2 RT 001 RW 011. Dan setelah 3 tahun tinggal di sana, saya masih saja tidak tahu berapa nomor kode pos Kecamatan Mampang Prapatan. Waduh...!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Kode posnya harus diisi, Pak”, jawab Mas CS ketika saya beritahukan bahwa saya tidak tahu nomor kode pos alamat KTP.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Tapi Mas CS memberi petunjuk yang menyelamatkan saya (untuk sementara waktu): kode pos Jakarta biasanya 12000-an. Ya sudah, saya isi saja 12000. Dan... deal! Tapi masalah muncul lagi ketika saya harus mengisikan kode pos domisili saya di Depok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Alamaaaak....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Saya mencoba nego dengan sang CS (biasanya sistem birokrasi Indon bisa dinego... :p), tapi Mas-nya ini memang &lt;strike&gt;tabligh,&lt;/strike&gt; amanah&lt;strike&gt; dan fathonah&lt;/strike&gt;. Saya telpon istri, Beliau juga tidak tahu. Malah saya disuruh tanya ke Pak Arman, staf marketing dari perumahan kami di Depok. Wah, jauh amat ya untuk tanya kode pos Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Ya sudah, saya pasrah saja. Sepertinya saya harus menunda keinginan saya barang sehari dua hari untuk cari informasi...... kode pos!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Alhamdulillah, Tuhan masih mengijinkan saya untuk mencicipi akses 3G hari itu. Mas CS menawarkan paket Broom (sapu?) Unlimited dengan kartu IM2 prabayar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Akhir cerita, saya sampai kembali di kantor dengan hati ceria, berbunga-bunga. Setelah IDR 275.000 dikurangkan dari properti saya, saya akhirnya masuk dalam jajaran pria metroseksual yang melek internet dengan akses data broadband. Haha.. :D&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;No more HTTP tunelling untuk akses Facebook dan eksis di sosialita metropolitan. Selamat datang dunia maya tanpa batas!! Horeeee....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Sekian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Masih ada lagi kok.... :p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Sorenya, saya berniat untuk membaca sesuatu selama perjalanan pulang. Ah ya, saya masih belum selesai baca bukunya Pak Hernowo tentang Mengikat Makna. Dengan niat suci dan luhur untuk jadi seorang penulis, saya rangkai kembali hasil pembacaan saya atas buku “Mengikat Makna Update” ini sebelum melanjutkan bacaan saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Pak Hernowo memaknai proses “Mengikat Makna” sebagai sebuah sinergi yang saling membutuhkan antara kegiatan membaca dan menulis. Tiada menulis tanpa membaca, dan tiada membaca tanpa menulis. Tiada Kendy tanpa upil, dan tiada upil tanpa Kendy. Sebuah hubungan yang harmonis, selaras dan serasi. Saling membutuhkan, saling menguatkan, saling mengokohkan yang menghasilkan dan meledakkan kemampuan serta potensi seseorang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Nah, untuk dapat melakukan proses “Mengikat Makna”, Pak Hernowo mensyaratkan rekayasa sebuah “Ruang Privat” dimana proses “Mengikat Makna” ini akan dijalankan. Pertama sekali, seseorang harus selfish. Tentu saja Pak Hernowo harus meyakinkan saya -dan semua pembaca bukunya- untuk merekonstruksi makna selfish ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Menurut Pak Hernowo, kata selfish harus dimaknai sebagai “perasaan yang mengutamakan diri sendiri” saja tanpa frasa “dengan mengorbankan orang lain” yang biasa mengikutinya. Dan dengan sebuah catatan yang tegas: ini hanya dipakai di “Ruang Privat” yang sedang kita bangun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Sebagai seorang programmer, saya sepakat sekali dengan proses rekonstruksi makna. Bagi saya, sebuah kata atau istilah hanyalah sebuah variabel kosong yang perlu didefinisikan dulu apa isinya sebelum memulai sebuah sesi dialog atau diskusi. Bagi saya, kata apapun bisa dimaknai apa saja. Saya yang tidak suka durian akan memaknai buah ini sebagai buah yang tidak enak. Walaupun sebagian penduduk bumi pasti akan berkata sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;OK then it’s a deal!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Berikutnya, Pak Hernowo memperkenalkan kata AMBAK (Apa Manfaatnya BAgiKu). Kata AMBAK ini memaksa kita untuk selalu mencari motivasi dari setiap aktivitas yang akan kita geluti. Apa manfaatnya membaca bagiku? Apa manfaatnya menulis bagiku? Apa manfaatnya Facebook bagiku? Apa manfaatnya ngupil bagiku? Seseorang harus mencari motivasi untuk menggerakkan dirinya melakukan sebuah aktivitas. Dan tentu saja tujuan akhirnya bisa ditebak: untuk mengatasi seseorang dari kejenuhan dan kebosanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Motivasi ada dua macam: negatif dan positif. Meskipun dua motivasi ini bisa dipakai untuk beraktivitas, menurut Pak Hernowo, hanya motivasi positif sajalah yang mengantarkan seseorang menjadi manusia yang utuh. Dan di antara semua motivasi positif, Pak Hernowo memilih kebermaknaan diri sebagai motivasi tertinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Saya adalah seorang yang menyukai cerita-cerita fiksi a la manga (komik Jepang). Meskipun kisahnya tidak nyata, namun apa yang tergambar merupakan hasil perenungan para pengarangnya. Salah satu tema yang menarik perhatian saya adalah mengenai pertanyaan: apakah tujuan saya hidup di dunia? Jika seseorang tidak memiliki tujuan yang jelas sebagai destinasi hidupnya di dunia, tentu saja dia akan merasa bahwa keberadaannya di dunia hanyalah sia-sia belaka. “Meaningless”, kata orang bule berambut pirang bermata biru. Dan muaranya –kemungkinan besar- hanya satu: bunuh diri. Oleh karenanya, saya merasa bahwa pilihan Pak Hernowo ini cukup logis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Ketika kita merangkai ketiga kata kunci ini: selfish, AMBAK, dan makna diri; maka kita akan mendapatkan kesamaan tujuan dari kredo ini. Yaitu untuk diri sendiri. Ya, dari awal Pak Hernowo sudah menyebutkan kalimat kunci dari tesisnya ini: Menulis untuk Diri Sendiri. Semua aktivitas “Mengikat Makna” ini memang muaranya untuk diri sendiri, meskipun pada kenyataannya, sangat banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Nah, sebagai bahan contekan, Beliau menjelaskan bahwa dari proses “Mengikat Makna” ini Pak Hernowo mendapati kegiatan membaca sebagai sebuah input dan menulis sebagai sebuah output. Tidak ada output tanpa input. Dan saya mengibaratkan proses “input tanpa output” sebagai seseorang yang terus makan dan minum tanpa buang air. Nikmat? Jangan tanya saya..... :)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Oke, itulah sekilat rangkuman dari dua bab pertama buku “Mengikat Makna Update”. Semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Salam,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Kendy.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-6692865826108919520?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/6692865826108919520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=6692865826108919520' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/6692865826108919520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/6692865826108919520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2010/01/belajar-mengikat-makna-catatan-harian.html' title='Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 06 Jan 10'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-7730004111570005822</id><published>2009-12-29T20:09:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T00:54:59.982-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 30 Des 09 Tengah Hari</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kemarin, saya menelan begitu banyak informasi. Saya menduga karena beberapa hari yang lalu sempat terisolasi dari hiruk pikuk kehidupan manusia Indonesia karena kantor mengharuskan saya tidur dan menginap di Mumbai selama 8 hari (plus 5 hari off di rumah). Praktis saya tidak membaca koran atau menonton berita di TV (maklum, sampai saat ini saya masih belum punya TV :p) selama hampir 2 minggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Editorial Media Indonesia (MI) hari Selasa (29/12) mengupas tentang gegap gempitanya sambutan masyarakat atas buku karya George Junus Aditjondro berjudul “Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Bank Century”. Dengan tidak mengupas banyak mengenai buku tersebut, editorial MI lebih menyorot kepada kehebohan masyarakat atas munculnya karya kontroversial tersebut. Dalam euforia kehidupan demokrasi yang sedang kita ‘nikmati’ -dimana fairness dan sportivitas sangat dijunjung tinggi, mengapa masih ada saja indikasi terjadinya upaya penegasian sebuah wacana melalui tindakan di luar koridor logis, etis, dan hukum. Singkat kata: wacana harus dibalas dengan wacana, buku dijawab dengan buku pula. Dan tentu saja akan lebih cantik jika ada proses dialog yang membungkusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang melelahkan dan berat di ongkos namun inilah cara yang elegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oke, lanjut...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di harian yang sama, saya tertarik dengan kedua artikel yang dimuat di kolom Opini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel pertama berjudul “Biodisel di Indonesia Prospektif” yang ditulis oleh Bernd Waltermann dan Henning Streubel dari Boston Consulting Group. Diawali dengan sebuah kenyataan bahwa bahan bakar fosil yang tidak terbarukan suatu saat pasti akan habis, sedangkan di sisi yang lain sudah ada alternatif sumber energi ramah lingkungan berupa biodisel. Indonesia sebagai produsen CPO (&lt;i&gt;Crude Palm Oil&lt;/i&gt;) terbesar di dunia seharusnya bisa memanfaatkan kondisi ini. Ditambah dengan momentum COP ke-15 Copenhagen yang telah merumuskan target penurunan emisi karbon dunia, yang secara tidak langsung telah membuka pasar potensial bagi biodisel itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Perfect place, perfect timing, but not the perfect person. Not yet, at least.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja para pelaku industri perkebunan di Indonesia masih harus berbenah untuk bisa menguasai pangsa pasar baru yang menggiurkan ini. Adanya &lt;i&gt;goodwill&lt;/i&gt; dari pemerintah sebagai insentif bagi industri kelapa sawit diharapkan mampu menjaga, bahkan meningkatkan tingkat produksi CPO. Namun ini juga harus dibarengi dengan upgrade teknologi pengolahan CPO agar bisa lolos dari persyaratan yang dikenakan oleh negara-negara importir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tata kelola perkebunan kelapa sawit juga disoroti oleh artikel ini. Pembukaan lahan pertanian dan perkebunan melalui deforestasi yang masif mendudukkan Indonesia di posisi ketiga emitor CO2 terbesar di dunia, setelah Amerika dan Cina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dalam artikel ini masih ada hal-hal yang kontroversial, namun saya pribadi berpendapat bahwa memang harus ada tata kelola yang lebih baik bagi industri CPO di Indonesia. Pertama, adalah mengenai produktivitas lahan kelapa sawit Indonesia yang relatif masih lebih rendah dari Malaysia. Kedua, mengenai aturan pembukaan lahan perkebunan yang masih belum diakui kesahihannya oleh masyarakat dunia. Lepas dari kontroversi ilmiah seputar tema perubahan iklim, keberadaan pasar karbon adalah sebuah keniscayaan yang harus diantisipasi. Dan tata kelola lahan adalah salah satu poin yang mungkin akan menentukan apakah kita akan untung atau buntung di industri hijau tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel kedua adalah “Merenungkan Iklim Masa Depan” tulisan Bapak Halmar Halide dari Universitas Hasanudin (Unhas). Sedikit intermezzo, tulisan dari Pak Halmar inilah yang memberikan petunjuk kepada saya bahwa ternyata ada &lt;i&gt;the other side of the story&lt;/i&gt; dari tema pemanasan global. Dalam artikelnya kali ini, Pak Halmar mengawalinya dengan hasil dari COP ke-15 Kopenhagen yang berupa kesepakatan tidak mengikat untuk mengurangi emisi agar peningkatan suhu tidak melebihi 2°C pada tahun 2050, serta kucuran dana miliaran US dollar sebagai biaya mitigasi dan antisipasi efek pemanasan global.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ironisnya, landasan ilmiah bagi semua kesepakatan dan kucuran finansial tersebut masih terus berada di ajang perdebatan para ilmuwan. Karbondioksida, yang oleh IPCC ditetapkan sebagai agen utama pemanasan global, ternyata merupakan berkah bagi tumbuhan dan plankton di lautan sebagai bahan utama fotosintesis. Tidak itu saja, CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; juga merupakan selimut hangat yang menjaga suhu rata-rata bumi berkisar pada angka 15°C. Menariknya, efek rumah kaca yang ditimbulkan oleh ikatan karbon ini hanya terjadi pada suhu rendah alias tidak sinkron terjadi di semua belahan dunia dan kisaran suhu. Bahkan menurut salah satu hasil observasi, suhu bumi ternyata mengalami penurunan sejak tahun 2001 dimana tingkat penurunannya sebesar -1,2°C per seratus tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sangat menggarisbawahi satu kata kunci dari paragraf terakhir artikel tersebut: kerendahan hati. Pengetahuan manusia, terutama mengenai iklim bumi, sangatlah terbatas. Diperlukan kerendahan hati dan pikiran yang terbuka untuk menerima penemuan, metodologi, dan observasi yang baru; serta mengadu berbagai pendapat dalam sebuah forum yang terbuka dan fair. Namun, jika ilmu pengetahuan sudah menjadi agama, maka tangan besi a la inkuisisi-lah yang akan bekerja memotong dan mengintersepsi semua wacana yang berseberangan dengan arus utama. Dan sayangnya, inilah yang terjadi dalam sebuah tema besar perubahan iklim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oke, itulah yang saya dapat kemarin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini.......... Mmmm, mungkin akan saya tulis besok. Hehe, &lt;i&gt;back to work&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam,&lt;br /&gt;
Kendy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-7730004111570005822?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/7730004111570005822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=7730004111570005822' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/7730004111570005822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/7730004111570005822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2009/12/belajar-mengikat-makna-catatan-harian_29.html' title='Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 30 Des 09 Tengah Hari'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-4632444762498771451</id><published>2009-12-29T19:26:00.001-08:00</published><updated>2009-12-29T19:27:23.908-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 29 Des 09 Tengah Hari</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tidak ada yang spesial dari catatan saya kali ini. Hanya sebuah proses  belajar untuk meng-upgrade dan meningkatkan potensi diri. By the way, saat ini  saya sedang menikmati sebuah buku berjudul "Mengikat Makna Update", buah tangan  Pak Hernowo. Menurut informasi dari buku tersebut, Pak Hernowo ini mencatatkan  rekor 24 buku dalam 4 tahun. Dengan sedikit ilmu penerawangan a la Statistika,  rata-rata 1 buku Beliau tulis dalam 2 bulan. Wow!! Oleh karenanya, dengan  semangat untuk menjadi Kendy versi 2.0, saya coba tuangkan apa saja yang  terlintas di otak kiri, kanan, depan, belakang, atas dan bawah saya dalam bentuk  tulisan. Semoga bisa istiqamah!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini, saya memulai hari dengan  hal-hal yang baik. Anak-anak sudah dapat jatah gendong masing-masing, Mbak  Farras juga makannya banyak kali ini, kereta datang tepat waktu dan berhenti  juga dengan tepat waktu. Well, meskipun saya akhirnya beli karcis di atas  kereta... :p&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oke..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemarin saya baru saja memulai membaca buku  "Mengikat Makna Update" yang saya beli beberapa hari yang lalu. Menarik sekali  untuk direnungkan dan coba untuk dipahami, bahwa Pak Hernowo memiliki sebuah  kredo yang sangat eye-catching: Menulis untuk Diri Sendiri. Di era yang  menjunjung tinggi selfishness, kredo ini sangat menarik untuk dimengerti,  dipahami, dan diamalkan. Apa sih yang enggak buat diri sendiri? Sebuah strategi  marketing yang sangat memahami pasar. Tapi, jangan tanya saya. Karena saya baru  saja membaca beberapa lembar. Kalau Anda beruntung, saya mungkin akan membuat  resensinya beberapa waktu lagi... Haha :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oiya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya masih punya  hutang tulisan serial "Is Man-Made Global Warming a Hoax?". Berhubung saya masih  berkutat dengan data-data hasil penerawangan saya, seri berikutnya mungkin masih  akan memakan waktu yang agak lama. Mohon, Anda, para Fans saya, bersabar...  :p&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu lagi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya sedang idle (baca: nganggur tapi  dibayar), iseng-iseng saya search Google untuk mengukur sejauh mana eksistensi  saya di dunia maya. Kata kunci 'kendyaditya' saya pilih untuk diumpankan ke  mesin pencari. Alhasil, saya sampai &lt;a href="http://www.blogger.com/note_redirect.php?note_id=251405167929&amp;amp;h=73f89c3ab013a31e7e4e7f8fd1a8d63d&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fid.answers.yahoo.com%2Fquestion%2Findex%3Fqid%3D20080228071246AAihySp" target="_blank" title="http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080228071246AAihySp"&gt;di sini&lt;/a&gt; (in case, Anda tidak menyadari hyperlink-nya, URL-nya  di &lt;a href="http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080228071246AAihySp" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;f1295e5af177eee939d635e6533bc5db&amp;quot;, event)" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://id.answers.yahoo.co&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;m/question/index?qid=20080&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;228071246AAihySp&lt;/a&gt;). Duh, saya hampir nangis Bombay.  Ternyata, ada yang menjadikan tulisan saya sebagai referensi, bahkan ditaruh di  urutan teratas. Wah, saya jadi bersemangat untuk menghidupkan kembali webblog  saya yang di Multiply.com setelah beberapa abad terlunta, terhina, ternista. Ya  sutra, biar para Admin menghadang dan memblokirnya. Badai tetap berlalu...  Tunggulah, para MP-ers. Saya datang kembali. Jreng, jreng...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oke. Catatan  kali ini saya tutup dengan ucapan hamdalah. Soalnya, paperwork sudah  menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-4632444762498771451?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/4632444762498771451/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=4632444762498771451' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/4632444762498771451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/4632444762498771451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2009/12/belajar-mengikat-makna-catatan-harian.html' title='Belajar Mengikat Makna: Catatan Harian 29 Des 09 Tengah Hari'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-1209506599183224924</id><published>2009-12-28T23:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T23:59:12.026-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='global warming'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hoax'/><title type='text'>Is Man-Made Global Warming a Hoax? (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: small;"&gt;“So it is said that if you know your enemies and know yourself, you can win a hundred battles without a single losses” – Sun Tzu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
Hari-hari ini, isu lingkungan adalah isu yang paling hangat, seksi dan paling mendominasi dalam setiap forum pembicaraan, mulai dari forum gosip Ibu-Ibu rumah tangga hingga mailing list Bapak-Bapak pekerja kantoran, mulai dari obrolan ringan para tukang ojek hingga diskusi serius para pemimpin negara-negara sedunia. Maka dalam rangka memeriahkan hajatan Konferensi Perubahan Iklim di Copenhagen, saya membuat tulisan tentang global warming secara berseri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak tahu persis sejak kapan isu pemanasan global menjadi sebuah histeria dunia dimana hampir tidak ada sudut kehidupan yang tidak terjamah olehnya. Perlahan namun pasti tema gas rumah kaca dan emisi karbon telah berkembang dari sebuah isu ilmiah menjadi komoditas bisnis dan politik. Dalam kancah politik antarnegara, isu-isu emisi gas rumah kaca telah masuk dalam daftar senjata diplomatik untuk menekan atau menepis serangan pihak luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai awalan dari tulisan berseri ini, marilah sejenak kita belajar lebih dulu mengenai hal-hal yang terkait dengan isu perubahan iklim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Intergovernmental Panel on Climate Change&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didirikan pada tahun 1988, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) adalah sebuah badan ilmiah lintas negara bentukan World Meteorological Organization (WMO) dan United Nations Environment Programme (UNEP) yang bertugas mengevaluasi risiko pemanasan global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia (anthropogenic global warming / AGW). Tugas utama badan ini adalah mempublikasikan laporan-laporan khusus dari topik-topik yang terkait dengan implementasi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) [1]. UNFCCC sendiri adalah sebuah perjanjian tidak mengikat yang bertujuan untuk menurunkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bumi pada satu titik yang sanggup mencegah bahaya AGW [2]. Dalam tugasnya, IPCC tidak melakukan kegiatan riset ilmiah maupun aktivitas pemantauan iklim atau fenomena alam terkait lainnya secara mandiri. Tugas IPCC lebih cenderung pada penelitian semua informasi yang ada mengenai tema perubahan iklim dimana informasi tersebut sebagian besar diperoleh dari literatur ilmiah yang telah di-peer review dan dipublikasikan secara luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai tulisan ini dibuat, IPCC telah mempublikasikan 4 buah assessment report yang terdiri atas 3 bagian, yaitu Working Group I, II, dan III. Keempat assessment report tersebut adalah assessment report pertama, yang dijadikan sebagai dasar bagi UNFCCC, dipublikasikan pada tahun 1990. Assessment report kedua dipublikasikan pada tahun 1995, assessment report ketiga pada tahun 2001, dan assessment report keempat pada tahun 2007.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Protokol Kyoto&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) merupakan sebuah konvensi yang dihasilkan oleh KTT Bumi yang diadakan di Rei de Janeiro, Brazil pada tahun 1992. Konvensi ini menentukan tingkat ambang batas emisi gas rumah kaca bagi tiap-tiap negara, namun sifatnya tidak mengikat dan tidak memiliki mekanisme pemberian sanksi apapun. Oleh karenanya pada tahun 1997, UNFCCC kemudian diperbarui menjadi sebuah protokol yang secara hukum bersifat mengikat serta memberikan mekanisme terperinci terkait dengan pembatasan emisi gas rumah kaca, dikenal dengan nama Protokol Kyoto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan protokol ini, negara-negara yang tergabung dalam Annex I [3] berkomitmen untuk mengurangi emisi dari 4 gas rumah kaca (greenhouse gases / GHG), yaitu karbon dioksida, metana, nitrogen oksida, dan sulfur heksaflorida; serta 2 kelompok gas, yaitu hidrofluorokarbon dan perfluorokarbon. Selain itu, negara-negara Annex I sepakat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca kolektif mereka hingga 5.2% dihitung dari tingkat emisi tahun 1990.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Protokol Kyoto juga melahirkan sejumlah mekanisme yang fleksibel bagi pencapaian target pengurangan emisi, di antaranya adalah sistem perdagangan emisi, clean development mechanism (CDM), dan implementasi bersama. Mekanisme-mekanisme tersebut memungkinkan negara-negara Annex I untuk memenuhi target mereka dengan cara memperoleh poin pengurangan emisi GHG melalui bantuan finansial atau mengadakan proyek-proyek pengurangan emisi, baik di negara-negara non-Annex I maupun Annex I; atau mendapatkannya dari negara-negara Annex I yang pengurangan emisinya telah melampaui target [4].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perdagangan Emisi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai bagian dari mekanisme pengurangan emisi GHG, protokol Kyoto menyediakan sistem-sistem untuk membantu negara-negara Annex I memenuhi target pengurangan emisinya. Salah satu di antaranya adalah melalui perdagangan emisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-masing negara yang memberikan komitmennya melalui Protokol Kyoto memperoleh jatah ambang batas emisi (cap) yang boleh dihasilkan. Negara-negara yang memiliki kelebihan jatah emisi ini boleh menjualnya (trade) kepada negara-negara yang menghasilkan emisi melebihi target yang telah ditentukan. Dari sini muncullah istilah “cap-and-trade”. Karena secara saintifik karbondioksida dianggap sebagai elemen utama gas rumah kaca, orang lebih cenderung untuk menyebutnya sebagai perdagangan karbon. Oleh karenanya, Protokol Kyoto juga dianggap sebagai pencipta sebuah pasar baru: Pasar Karbon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain karbon, skema perdagangan emisi ini juga mengenal beberapa satuan kredit yang bisa diperjualbelikan, yaitu:&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Removal Unit (RMU), yang dihitung berdasarkan aktivitas penggunaan lahan, pengubahan fungsi lahan dan perhutanan. Misalnya: reboisasi.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Emission Reduction Unit (ERU).&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Certified Emission Reduction (CER), dihasilkan oleh aktivitas pembangunan yang ramah lingkungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses transfer dan akuisisi komoditas ini dicatat dan direkam melalui sebuah sistem registrasi (registry system) di bawah Protokol Kyoto. Sedangkan untuk menjamin keamanan dari transfer unit pengurang emisi antarnegara, skema ini menggunakan sebuah pencatatan transaksi internasional (international transaction log).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isu pemanasan global -tentu saja- berawal dari berbagai macam penemuan dan penelitian oleh para ilmuwan mengenai kondisi dan gejala alam semesta. Berawal dari sana, kemudian PBB -sebagai badan dunia- kemudian merintis upaya-upaya untuk menghindarkan dunia dari perkiraan bencana ekologis di masa depan. Salah satunya dengan inisiatif IPCC dan UNFCCC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah langkah mulia yang –oleh para politisi- kemudian dijadikan sebagai ajang perang diplomasi dan politik. Jika dihitung dari awal dibentuknya UNFCCC pada tahun 1992, dan diikuti oleh KTT Perubahan Iklim (Conference of the Parties / COP) yang diadakan hampir setiap tahunnya; seharusnya kita sudah mendapatkan sebuah hasil kesepakatan dunia yang secara legal formal bersifat mengikat, dan bersegera memulai langkah-langkah nyata untuk “mengurangi tingkat emisi karbon”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jauh panggang daripada api. Kepentingan domestik masing-masing negara serta adanya agenda tersembunyi dari banyak pihak menjadi batu sandungan yang sangat besar. Alih-alih mengedepankan perasaan sebagai warga dari planet yang sama, para politisi menjadikan COP sebagai ajang untuk menarik keuntungan sebesar-besarnya bagi masing-masing pihak dan unjuk ego negara-negara besar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita terakhir yang saya dapat, COP ke-15 di Kopenhagen ini terancam deadlock karena belum adanya kesepakatan dari masing-masing pihak, baik negara-negara maju maupun negara-negara berkembang. Bahkan situasi memanas setelah delegasi AS secara sepihak dan tiba-tiba meminta perubahan atas naskah konvensi yang sedang dalam proses negosiasi. Apalagi PM Denmark kemudian mengatakan akan mengeluarkan naskah versi mereka ke tengah-tengah arena COP.[5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sungguh ironis jika semua hingar-bingar dan beban finansial yang sudah dikeluarkan terkait tema ini, ternyata didasari oleh temuan ilmiah yang belum teruji secara komprehensif. Ada banyak teori, fakta dan temuan data yang tidak mendukung adanya AGW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti apakah kisahnya? Lanjut ke seri berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Catatan Kaki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
[1] Intergovernmental Panel on Climate Change, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Intergovernmental_Panel_on_Climate_Change"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Intergovernmental_Panel_on_Climate_Change&lt;/a&gt;, diakses pada tanggal 15 Desember 2009 pukul 06:35 GMT.&lt;br /&gt;
[2] United Nations Framework Convention on Climate Change, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/United_Nations_Framework_Convention_on_Climate_Change"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/United_Nations_Framework_Convention_on_Climate_Change&lt;/a&gt;, diakses pada tanggal 15 Desember 2009 pukul 07:39 GMT.&lt;br /&gt;
[3] Australia, Austria, Belarusia, Belgia, Bulgaria, Kanada, Kroasia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Eslandia, Irlandia, Italia, Jepang, Latvia, Liechtenstein, Lithuania, Luxemburg, Monako, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Polandia, Portugal, Rumania, Federasi Rusia, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Swiss, Turki, Ukrania, Inggris, dan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;
[4] Kyoto Protocol, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kyoto_Protocol"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Kyoto_Protocol&lt;/a&gt;, diakses pada tanggal 16 Desember 2009 pukul 09:34 GMT.&lt;br /&gt;
[5] Harian “The Times of India”, tanggal 17 Desember 2009.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-1209506599183224924?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/1209506599183224924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=1209506599183224924' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/1209506599183224924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/1209506599183224924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2009/12/is-man-made-global-warming-hoax-bagian.html' title='Is Man-Made Global Warming a Hoax? (Bagian 1)'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22767655.post-7291724626429753769</id><published>2009-12-08T18:39:00.000-08:00</published><updated>2009-12-08T19:53:40.301-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi'/><title type='text'>Write Something or Die Regretting</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Tahukah Anda apa jadinya dunia tanpa buku? Kehidupan yang sunyi sepi, penuh dengan orang-orang bodoh dan katro, serta tidak adanya sebentuk ritual tidur yang ilmiah (baca: tidur berbantalkan diktat kuliah dan buku-buku referensi tebal). Dan apakah ada sebuah buku jika tak ada orang yang mau dan mampu menulisnya? Tentu saja jawabannya tidak, never, mboten, dan nehi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Jadi secara singkat, menulis adalah aktifitas ilmiah, mencerahkan manusia, menggerakkan dunia, sarana olahraga otak, dan yang pasti -menurut saya-….. keren!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Kenapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Memanjangkan Usia&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Sejarah dunia telah mencatat jutaan nama manusia dalam memorinya. Ada yang melintas dan tetap mengorbit dalam kurun yang panjang, ada juga yang melintas sekelebat lalu &lt;i&gt;sirna ilang kertaning bumi&lt;/i&gt;. Hilang tanpa bekas noda.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Tahukah Anda lewat apakah Ibnu Khaldun, Ibnu Batutah, dan Charles Darwin tetap tercatat dalam sejarah dunia? Ibnu Khaldun terkenal lewat mahakarya ilmiahnya, al-Muqaddimah, yang untuk pertama kalinya membahas tuntas masalah demorafi, sejarah budaya, filsafat sejarah, dan sosiologi. Lewat karyanya inilah dia dikenal sebagai pionir dalam bidang ilmu ekonomi modern. Lain halnya dengan Ibnu Batutah. Kisah perjalanan panjang petualang Muslim ini dikenal serta dikagumi oleh dunia melalui bukunya, Rihlah, yang membuat namanya abadi dalam sejarah manusia. Akan halnya degan Charles Darwin, peletak dasar teori evolusi ini juga abadi namanya lewat buah tangannya yan terkenal, On the Origin of Species.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Itulah orang-orang yang panjang umurnya. Kisah dan kiprah mereka etap hidup dalam sejarah dan memori kolektif umat manusia; bahkan jauh setelah jasadnya beristirahat tenang di pemakaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Anda Punya Idealisme? Sebarkan!&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Setiap orang pasti memiliki pendapat tentang apa-apa yang dianggap baik, buruk, bersih, jorok, benar, dan salah. Dan setiap orag pasti suka jika ada orang lain yang memiliki pendapat yang serupa. Oleh karenanya, orang-orang selalu berusaha menyebarkan idealismenya ke seluruh penjuru mata angin.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Das Kapital-nya Karl Marx sempat membuat setengah penduduk bumi menjadi komunis. Karya Adolf Hitler, Mein Kampf, sudah diterjemahkan dan bisa ditelaah oleh orang Indonesia. Dan Robert Kiyosaki berhasil mengubah cara pandang orang terhadap uang lewat bukunya, Rich Dad Poor Dad.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Jadi, jika Anda suka dengan lingkungan yang bersih dan membenci orang-orag yang suka membuang sampah sembarangan; maka menulislah sesuatu sekarang juga!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Warisan untuk Anak Cucu&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Tidak ada manusia yang hidup selamanya. Jalur hidup setiap insan pasti akan berakhir di garis ajal. Dan tidak ada cara yang lebih elegan -menurut saya- untuk meninggalkan kehidupan dunia, melainkan setelah meninggalkan jejak keberadaan kita kepada manusia yang datang dan hidup setelah kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Setiap manusia adalah individu yang unik karena masing-masing mereka memiliki pemikiran, sikap dan pendirian, serta kisah hidup yang benar-benar berbeda. Adalah hal yang luar biasa jika hal-hal tersebut dipublikasikan dan dikenal oleh dunia. Maka lewat tulisanlah, Anda bisa dikenang bahkan menginspirasi generasi mendatang untuk berbuat hal-hal yang positif.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Jadi tunggu apa lagi? Menulislah sekarang juga..... atau Anda akan menyesal jika tidak melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22767655-7291724626429753769?l=kendyaditya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kendyaditya.blogspot.com/feeds/7291724626429753769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22767655&amp;postID=7291724626429753769' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/7291724626429753769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22767655/posts/default/7291724626429753769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kendyaditya.blogspot.com/2009/12/write-something-or-die-regretting.html' title='Write Something or Die Regretting'/><author><name>Kendy A. Sumbogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03624611316635654623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HfdAdcfASHM/Sx8TDzCwXuI/AAAAAAAAABo/gVsB5CF0e_w/S220/foto-diri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
